Jawaban singkat: Sholawat Nariyah berbunyi Allaahumma shalli shalaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman 'alaa sayyidinaa Muhammad dan seterusnya. Teks ini bukan berasal dari hadis, melainkan susunan ulama belakangan. Membacanya sebagai bentuk sholawat boleh menurut sebagian ulama, tetapi keutamaan dengan hitungan 4444 kali tidak memiliki dasar. Sholawat yang paling kuat sumbernya tetap Sholawat Ibrahimiyah.
Sholawat Nariyah termasuk sholawat yang paling banyak dibaca di Indonesia, sering diamalkan berjamaah untuk hajat tertentu. Kalau Anda mencarinya, hampir semua hasil teratas menampilkan teks yang sama disertai janji bahwa membacanya 4444 kali akan melepaskan segala kesulitan. Ada beberapa hal yang jarang dijelaskan secara terbuka, dan menurut kami Anda berhak mengetahuinya agar amalan Anda tenang dan berdasar.
Tulisan ini melanjutkan pembahasan keutamaan membaca sholawat dan macam-macam sholawat Nabi. Jika kedua tulisan itu membahas sholawat secara umum, di sini kita fokus pada satu sholawat yang paling sering ditanyakan sekaligus paling sering disalahpahami.
Apa Itu Sholawat Nariyah?
Sholawat Nariyah adalah rangkaian sholawat yang isinya memuji Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam dan memohon kepada Allah agar dengan wasilah beliau segala kesulitan dilapangkan. Nama "Nariyah" dinisbatkan kepada penyebarannya, dan sebagian ulama menyebutnya Sholawat Tafrijiyah karena kandungan makna melapangkan kesulitan (tafrij). Teksnya bukan sabda Nabi, melainkan disusun oleh ulama di masa belakangan.
Baca juga:
Bagaimana Tulisan Arab, Latin, dan Arti Sholawat Nariyah?
اللَّهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِي تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِيمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ فِي كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُومٍ لَكَ
Allaahumma shalli shalaatan kaamilatan wa sallim salaaman taamman 'alaa sayyidinaa Muhammadinil ladzii tanhallu bihil 'uqadu wa tanfariju bihil kurabu wa tuqdhaa bihil hawaa-iju wa tunaalu bihir raghaa-ibu wa husnul khawaatiimi wa yustasqal ghamaamu biwajhihil kariimi wa 'alaa aalihi wa shahbihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi'adadi kulli ma'luumin lak.
"Ya Allah, limpahkanlah sholawat yang sempurna dan salam yang penuh kepada junjungan kami Muhammad, yang dengan berkah beliau segala ikatan terlepas, segala kesulitan tersingkap, segala kebutuhan tertunaikan, segala keinginan dan husnul khatimah tercapai, dan dengan wajah beliau yang mulia hujan dimohonkan. Limpahkan pula kepada keluarga dan sahabatnya di setiap kejapan mata dan hembusan napas, sebanyak bilangan yang Engkau ketahui."
Perlu dicatat, ada beberapa variasi lafal yang beredar. Sebagian menulis tuqdhaa bihil hawaa-iju, sebagian menambah atau mengurangi frasa. Perbedaan kecil ini wajar karena teksnya bukan riwayat dengan sanad yang terjaga kata demi kata seperti hadis.
Apa Hukum Membaca Sholawat Nariyah?
Di sinilah letak pembahasan yang sering ditutupi. Para ulama berbeda pendapat, dan keduanya punya alasan. Menyembunyikan salah satunya justru tidak jujur.
Pendapat yang membolehkan. Mayoritas ulama, terutama dari kalangan Syafi'iyah dan pesantren di Indonesia, membolehkan membacanya. Alasannya, inti sholawat ini tetaplah memuji Nabi dan memohon kepada Allah. Frasa "dengan sebab beliau" dipahami sebagai tawasul, yaitu menjadikan kecintaan dan kedudukan Nabi sebagai perantara doa kepada Allah, bukan meyakini Nabi sebagai pemberi manfaat secara mandiri. Pemberi hakikatnya tetap Allah.
Pendapat yang mengkritik. Sebagian ulama lain berhati-hati pada frasa seperti tanhallu bihil 'uqadu (dengan beliau ikatan terurai) dan tuqdhaa bihil hawaa-iju (dengan beliau kebutuhan tertunaikan). Mereka khawatir kalimat itu bila dipahami keliru bisa mengesankan bahwa yang melepaskan kesulitan adalah Nabi, padahal yang berkuasa hanya Allah. Karena itu mereka menganjurkan memilih sholawat yang lafalnya jelas berasal dari Nabi.
Yang perlu dipahami, ini adalah perbedaan pendapat yang sah di antara ulama, bukan urusan halal-haram yang hitam putih. Sikap yang bijak adalah memahami maksudnya dengan benar bila Anda membacanya, dan tidak menyalahkan saudara yang mengambil pendapat berbeda.
Benarkah Ada Keutamaan Membaca 4444 Kali?
Tidak ada dasarnya. Janji spesifik seperti membaca 4444 kali untuk melepaskan kesulitan atau memenuhi hajat tidak ditemukan dalam Al-Quran maupun hadis yang sahih. Angka itu muncul dari tradisi turun-temurun, bukan dari dalil. Ciri amalan yang perlu diwaspadai memang selalu sama: sumbernya samar tetapi janjinya sangat spesifik dan berhitung.
Bukan berarti memperbanyak sholawat itu keliru. Memperbanyak sholawat sangat dianjurkan dan keutamaannya nyata, sebagaimana dijelaskan di keutamaan membaca sholawat. Yang tidak berdasar hanyalah penetapan angka tertentu sebagai syarat terkabulnya hajat.
Perbandingan Sholawat Nariyah dan Sholawat Ibrahimiyah
| Aspek | Sholawat Nariyah | Sholawat Ibrahimiyah |
|---|---|---|
| Sumber teks | Susunan ulama belakangan | Diajarkan langsung oleh Nabi |
| Derajat | Bukan hadis; lafal diperdebatkan | Sahih, riwayat Bukhari dan Muslim |
| Dibaca dalam sholat | Tidak | Ya, pada tasyahud akhir |
| Hukum | Diperselisihkan (mayoritas membolehkan) | Disepakati dianjurkan |
| Keutamaan berhitung | Tidak ada dasar (4444 dsb.) | Keutamaan sholawat umum berlaku |
Sholawat Ibrahimiyah, Pilihan yang Disepakati
Jika Anda ingin sholawat yang lafalnya pasti dari Nabi dan disepakati seluruh ulama, bacalah Sholawat Ibrahimiyah, yaitu sholawat yang kita baca pada tasyahud akhir setiap sholat.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Allaahumma shalli 'alaa Muhammad wa 'alaa aali Muhammad, kamaa shallaita 'alaa Ibraahiim wa 'alaa aali Ibraahiim, innaka hamiidum majiid.
"Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau limpahkan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Mahamulia."
Dari Mana Asal Sholawat Nariyah?
Sholawat Nariyah tidak berasal dari Rasulullah, melainkan disusun oleh ulama di masa belakangan. Sebagian sumber menisbatkannya kepada Syaikh Ibrahim at-Tazi, seorang ulama dari Maghrib (Afrika Utara). Nama "Nariyah" dikaitkan dengan penyebutan dan pengamalannya yang meluas, sementara nama lain yang lebih menggambarkan isinya adalah Sholawat Tafrijiyah, dari kata tafrij yang berarti melapangkan atau menyingkap kesulitan.
Di Nusantara, sholawat ini menyebar luas lewat tradisi pesantren dan sering dibaca berjamaah, terutama saat menghadapi hajat besar atau kesulitan bersama. Penyebaran yang luas ini membuat sebagian orang mengira ia berasal dari hadis, padahal tidak. Mengetahui asal-usulnya penting agar Anda menempatkannya secara proporsional: sebagai susunan doa yang baik dari ulama, bukan sabda Nabi yang wajib diyakini keutamaannya secara pasti.
Apa Makna Tawasul dalam Sholawat Nariyah?
Kunci memahami sholawat ini terletak pada kata "dengan sebab beliau" atau bihi. Mayoritas ulama memaknainya sebagai tawasul, yaitu menjadikan kecintaan dan kedudukan Nabi di sisi Allah sebagai perantara doa. Jadi maksudnya bukan Nabi yang melepaskan kesulitan, melainkan Allah yang melepaskannya berkat doa dan syafaat Nabi. Pemberi dan penentu tetap Allah semata.
Batasnya menjadi jelas di sini. Tawasul yang dibolehkan adalah memohon kepada Allah sambil menyebut kemuliaan Nabi. Yang terlarang adalah bila seseorang sampai meyakini Nabi mampu memberi manfaat atau menolak bahaya secara mandiri tanpa izin Allah, karena itu bertentangan dengan tauhid. Selama keyakinan Anda lurus, bahwa hanya Allah yang berkuasa, membaca sholawat ini tidak mengeluarkan Anda dari batas yang benar.
Apa Saja Kesalahpahaman tentang Sholawat Nariyah?
- Mengira teksnya hadis. Ia susunan ulama, bukan sabda Nabi, sehingga tidak boleh dinisbatkan kepada Rasulullah sebagai hadis.
- Meyakini hitungan 4444 kali bersifat wajib atau pasti mengabulkan. Angka ini tidak berdasar; hajat terkabul atas kehendak Allah, bukan karena jumlah bacaan.
- Menjadikannya jimat pengganti ikhtiar. Sholawat menyempurnakan usaha, bukan menggantikannya. Yang ingin lulus tetap harus belajar.
- Menyalahkan yang tidak membacanya. Karena hukumnya diperselisihkan, sikap yang benar adalah saling menghormati pilihan, bukan saling menyalahkan.
Bagaimana Adab Membaca Sholawat agar Berkah?
- Pahami maknanya, jangan sekadar mengejar jumlah. Sholawat adalah ungkapan cinta, bukan mantra berhitung.
- Yakini bahwa yang mengabulkan hanya Allah. Nabi adalah kekasih yang kita cintai, bukan sekutu bagi Allah dalam memberi manfaat.
- Perbanyak di waktu utama, terutama hari Jumat dan malamnya, serta pagi dan petang.
- Jangan menuntut hasil dengan hitungan tertentu. Bersholawatlah karena cinta, biarkan Allah yang mengatur balasannya.
- Utamakan yang sahih. Bila ragu pada sebuah lafal, Sholawat Ibrahimiyah selalu menjadi pilihan yang aman.
Pada akhirnya, ruh dari sholawat adalah cinta kepada Nabi dan pengagungan kepada Allah. Selama dua hal itu terjaga, hati Anda akan tenang, entah Anda memilih membaca Nariyah dengan pemahaman yang benar atau memilih mencukupkan diri dengan sholawat yang lafalnya dari Nabi.
Komentar
Komentar pembaca
Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.
Tinggalkan komentar