Penyakit tubuh punya keuntungan yang jarang kita syukuri: ia terasa sakit. Rasa sakit itu memaksa kita berobat. Penyakit hati tidak begitu. Ia bekerja diam-diam, tidak menimbulkan nyeri, bahkan sering menyamar sebagai hal yang wajar. Iri disebut ambisi. Riya disebut syiar. Sombong disebut percaya diri.
Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menempatkan hati sebagai penentu segalanya:
"Ketahuilah, di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati."
HR. Bukhari dan Muslim, dari Nu'man bin Basyir
Artikel ini membahas delapan penyakit hati yang paling sering menjangkiti kita, lengkap dengan gejalanya yang jujur dan cara pengobatannya. Bacalah sambil bertanya pada diri sendiri, bukan sambil membayangkan orang lain.
Mengapa Hati Bisa Sakit
Al-Quran menyebut tiga kondisi hati manusia. Ada qalbun salim, hati yang selamat dan bersih. Ada qalbun mayyit, hati yang mati karena kekufuran. Dan ada qalbun maridh, hati yang sakit, yaitu hati yang masih beriman tetapi bercampur penyakit.
Mayoritas kita berada di kategori ketiga. Masih sholat, masih berhijab, masih berdzikir, tetapi ada bagian dalam diri yang bereaksi keliru terhadap kenikmatan orang lain, terhadap pujian, dan terhadap kritik. Itulah yang perlu diobati.
Rasulullah menjelaskan mekanisme kerusakannya:
"Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan satu dosa, ditorehkan satu titik hitam di hatinya. Bila ia meninggalkannya, beristighfar, dan bertaubat, hatinya kembali bersih. Namun bila ia menambah dosa, bertambah pula titik itu hingga menutupi hatinya."
HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Abu Hurairah
Delapan Penyakit Hati dan Tandanya
1. Hasad (Iri dan Dengki)
Hasad adalah rasa tidak suka terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, disertai harapan agar nikmat itu hilang darinya.
Tanda jujurnya: Anda merasa lega ketika seseorang yang selama ini sukses mengalami kemunduran. Anda menghindari berita baik tentang orang tertentu. Anda menemukan alasan untuk mengecilkan pencapaian orang lain, meski dalam hati saja.
Bahayanya: Rasulullah bersabda, "Jauhilah hasad, karena hasad memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar" (HR. Abu Dawud). Hasad tidak merugikan orang yang didengki, tetapi menghabiskan pahala pendengkinya.
Obatnya: Sadari bahwa membenci pembagian Allah pada hakikatnya adalah keberatan terhadap keputusan-Nya. Latih diri mendoakan kebaikan untuk orang yang Anda dengki, meski awalnya terasa berat. Kurangi paparan terhadap hal-hal yang memicunya, termasuk media sosial. Artikel cara mengatasi insecure menurut Islam membahas pemicu ini lebih dalam.
2. Riya (Beramal agar Dilihat)
Riya adalah mengerjakan ibadah dengan niat agar dipuji manusia. Rasulullah menyebutnya syirik ashghar atau syirik kecil, dan ini termasuk hal yang paling beliau khawatirkan menimpa umatnya.
Tanda jujurnya: Kualitas ibadah Anda berubah ketika ada yang melihat. Anda merasa kecewa ketika kebaikan yang dilakukan tidak diketahui siapa pun. Anda menyusun kalimat sedemikian rupa agar amal Anda terselip dalam pembicaraan.
Obatnya: Sisakan porsi amal yang benar-benar rahasia, yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah. Sedekah diam-diam, sholat malam yang tidak diceritakan. Amal rahasia adalah latihan langsung untuk keikhlasan.
3. Ujub (Kagum pada Diri Sendiri)
Ujub berbeda tipis dengan riya. Riya butuh penonton, ujub tidak. Ujub adalah rasa kagum pada amal sendiri, seolah kebaikan itu murni hasil usaha kita tanpa taufik dari Allah.
Tanda jujurnya: Anda merasa lebih baik daripada orang yang belum berhijab, belum rutin sholat malam, atau belum sepaham dengan Anda. Muncul kalimat dalam hati, "kalau saja mereka tahu seperti saya".
Obatnya: Ingat bahwa kemampuan beramal itu sendiri adalah pemberian. Ingat pula dosa-dosa yang hanya Anda dan Allah yang tahu. Orang yang mengingat kesalahannya sendiri jarang sempat merasa kagum pada dirinya.
4. Kibr (Sombong)
Rasulullah mendefinisikannya dengan sangat presisi: "Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia" (HR. Muslim). Jadi sombong tidak selalu soal harta atau penampilan. Menolak nasihat karena datang dari orang yang lebih muda juga termasuk sombong.
Tanda jujurnya: Anda sulit mengakui salah. Anda menilai kebenaran dari siapa yang menyampaikan, bukan dari isinya. Anda merasa tidak nyaman berada di posisi yang lebih rendah dari orang lain.
Obatnya: Biasakan mengucapkan "saya salah" tanpa pembelaan tambahan. Terima nasihat dari siapa pun, termasuk dari anak sendiri. Ingat asal penciptaan manusia dan ke mana ia akan kembali, sebagaimana dijelaskan dalam artikel tanda husnul khotimah.
5. Su'uzhan (Buruk Sangka)
Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa" (QS. Al-Hujurat: 12).
Tanda jujurnya: Anda otomatis menafsirkan tindakan orang lain ke arah negatif. Pesan yang tidak dibalas Anda artikan sebagai penghinaan. Pujian orang lain Anda curigai sebagai sindiran.
Obatnya: Latih kebiasaan mencari tujuh puluh alasan baik sebelum menyimpulkan yang buruk, sebagaimana pesan Umar bin Khattab. Bila ragu, tanyakan langsung daripada menebak sendiri berhari-hari.
6. Ghibah (Menggunjing)
Ghibah adalah membicarakan aib saudara kita yang bila ia mendengarnya akan tidak suka, meskipun apa yang kita katakan itu benar. Kalau tidak benar, namanya fitnah, dan itu lebih berat.
Tanda jujurnya: Percakapan Anda terasa hambar bila tidak membahas orang lain. Anda membungkus gunjingan dengan kalimat "kasihan ya dia" atau "ini buat pelajaran kita saja".
Obatnya: Ubah topik atau tinggalkan majelisnya. Praktik konkret untuk menjaga lisan, termasuk di ruang digital, dibahas dalam menjaga lisan di media sosial menurut Islam.
7. Hubbud Dunya (Cinta Dunia Berlebihan)
Bukan berarti dilarang memiliki harta. Yang menjadi penyakit adalah ketika dunia menempati posisi tertinggi dalam hati, sehingga ibadah dan hubungan dikorbankan demi mengejarnya.
Tanda jujurnya: Kehilangan uang lebih menyakitkan daripada kehilangan waktu sholat. Standar keberhasilan hidup Anda seluruhnya bersifat materi. Anda merasa cemas berkepanjangan setiap kali membandingkan pencapaian dengan teman seangkatan.
Obatnya: Perbanyak sedekah, karena sedekah melatih hati melepaskan. Perbanyak rasa syukur atas yang sudah ada, karena hati yang bersyukur lebih sulit dijangkiti keserakahan.
8. Qaswatul Qalb (Hati yang Keras)
Ini bukan penyakit tersendiri, melainkan akibat akhir dari penyakit-penyakit di atas yang dibiarkan menumpuk.
Tanda jujurnya: Ayat Al-Quran dibaca tanpa efek apa pun. Kabar kematian tidak lagi mengingatkan. Dosa dilakukan tanpa rasa bersalah. Nasihat masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
Obatnya: Perbanyak istighfar, ziarah kubur, membantu orang yang kesusahan, dan membaca Al-Quran dengan merenungi maknanya. Panduannya ada di keutamaan membaca Al-Quran dan keutamaan istighfar.
Ringkasan: Kenali, Bandingkan, Obati
| Penyakit | Inti Masalah | Obat Utama |
|---|---|---|
| Hasad | Tidak rela dengan pembagian Allah | Doakan orang yang didengki, kurangi pemicu |
| Riya | Butuh dilihat manusia | Simpan sebagian amal sebagai rahasia |
| Ujub | Merasa amal murni hasil sendiri | Ingat taufik Allah dan dosa sendiri |
| Kibr | Menolak kebenaran, meremehkan orang | Latih mengakui salah tanpa pembelaan |
| Su'uzhan | Menafsirkan segalanya ke arah buruk | Cari alasan baik, tabayun langsung |
| Ghibah | Nyaman membicarakan aib orang | Ubah topik atau tinggalkan majelis |
| Hubbud dunya | Dunia menempati posisi tertinggi | Sedekah rutin dan memperbanyak syukur |
| Qaswatul qalb | Hati kehilangan kepekaan | Istighfar, Al-Quran, ingat kematian |
Empat Langkah Pengobatan yang Berlaku Umum
1. Diagnosis dengan Jujur
Tidak ada pengobatan tanpa pengakuan. Ambil satu waktu tenang, lalu tanyakan pada diri sendiri penyakit mana yang paling dominan bulan ini. Menyebut namanya secara spesifik jauh lebih berguna daripada menyimpulkan "hati saya lagi tidak enak".
2. Muhasabah Rutin
Umar bin Khattab berpesan, "Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab." Sediakan lima menit sebelum tidur untuk meninjau reaksi hati sepanjang hari. Konsep ini menjadi tahapan penting dalam lima tahapan tazkiyatun nafs.
3. Kelola Pemicunya, Bukan Hanya Gejalanya
Kalau hasad Anda memuncak setiap kali membuka media sosial, akar masalahnya bukan sekadar hati, melainkan juga kebiasaan. Kurangi paparan. Cara mengelola reaksi emosional yang menyertainya dibahas di mengelola emosi negatif.
4. Minta Pertolongan Allah
Rasulullah sendiri sering berdoa, "Yaa Muqallibal quluub, tsabbit qalbii 'alaa diinik" yang berarti wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu (HR. Tirmidzi). Bila Nabi yang terjaga saja berdoa demikian, kita jelas lebih membutuhkannya.
Penutup
Penyakit hati tidak sembuh dalam semalam, dan itu wajar. Yang berbahaya bukan adanya penyakit, melainkan berhentinya kesadaran bahwa kita sedang sakit. Selama Anda masih terganggu ketika menyadari ada hasad atau riya dalam diri, hati Anda masih hidup dan masih bisa diobati.
Mulai malam ini, ambil satu saja dari delapan penyakit di atas. Jangan delapan-delapannya sekaligus. Kerjakan obatnya selama sepekan, lalu evaluasi. Perbaikan hati memang lambat, tetapi ia adalah investasi yang akan menentukan bagaimana kita menghadap nanti, ketika harta dan anak tidak lagi berguna kecuali bagi yang datang dengan hati yang selamat.
Komentar
Komentar pembaca
Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.
Tinggalkan komentar