Artikel

Cara Mengatasi Insecure Menurut Islam: Berhenti Membandingkan Diri dan Mulai Bersyukur

Kamu pernah tidak, sedang rebahan santai, lalu membuka Instagram, dan tiba-tiba hatimu terasa berat? Kamu melihat foto teman yang baru menikah dengan gaun yang mewah. Scroll lagi, ada yang baru beli m...

DA
By Dimas Agustav
15 Juli 2026
7 min read 152 views
Cara Mengatasi Insecure Menurut Islam: Berhenti Membandingkan Diri dan Mulai Bersyukur

Informasi

Published
15 Juli 2026
Reading time
7 min
Views
152

Kamu pernah tidak, sedang rebahan santai, lalu membuka Instagram, dan tiba-tiba hatimu terasa berat? Kamu melihat foto teman yang baru menikah dengan gaun yang mewah. Scroll lagi, ada yang baru beli mobil. Scroll lagi, ada yang kulitnya mulus bak porselen, tubuhnya ideal, hidupnya tampak sempurna. Dan tanpa sadar, kamu mulai bertanya dalam hati: "Kenapa hidupku tidak seperti itu? Kenapa aku tidak secantik dia? Kenapa aku belum seberhasil mereka?"

Perasaan itu tidak langsung pergi. Ia menempel, merayap pelan ke dalam dada, dan tiba-tiba kamu merasa dirimu tidak cukup. Tidak cukup cantik. Tidak cukup kaya. Tidak cukup sukses. Tidak cukup segalanya.

Ukhti, jika kamu pernah merasakan ini, kamu tidak sendirian. Di era media sosial seperti sekarang, rasa insecure adalah salah satu beban terberat yang diam-diam dipikul oleh jutaan muslimah setiap harinya. Dan yang membuat hati ini semakin berat adalah ketika kita tahu, seharusnya sebagai seorang mukminah, kita merasa cukup dan bersyukur. Lalu muncul rasa bersalah di atas rasa insecure itu sendiri.

Artikel ini hadir untuk berbicara langsung ke hatimu, dengan penuh kasih. Karena Islam bukan sekadar agama aturan, ia adalah obat untuk setiap luka batin, termasuk luka dari rasa tidak percaya diri yang sudah terlalu lama kamu simpan sendirian.

Apa Itu Insecure dan Mengapa Ia Terasa Begitu Menyakitkan?

Insecure, atau rasa tidak aman pada diri sendiri, adalah perasaan bahwa dirimu tidak cukup berharga, tidak cukup layak, atau tidak mampu dibandingkan dengan orang lain. Ia muncul ketika kita terus-menerus membandingkan diri sendiri dengan orang lain, lalu merasa kalah dalam perbandingan itu.

Psikologi modern sudah lama meneliti fenomena ini. Tapi jauh sebelum para psikolog berbicara tentang social comparison theory, Islam sudah memberikan panduan yang sangat jelas tentang bahaya membandingkan diri dan betapa tingginya nilai seorang manusia di hadapan Allah.

Yang membuat insecure terasa begitu menyakitkan adalah karena ia menyerang identitas paling dasar kita sebagai manusia: rasa berharga. Dan ketika media sosial hadir dengan highlight reel kehidupan orang lain yang tampak sempurna, luka ini semakin mudah terbuka dan semakin dalam.

Apa Kata Islam Tentang Membandingkan Diri dengan Orang Lain?

Islam berbicara dengan sangat tegas tentang bahaya membandingkan diri sendiri dengan orang lain, khususnya dalam hal duniawi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan panduan yang begitu bijak dalam sebuah hadits yang seharusnya menjadi pegangan kita:

«انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ، وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ، فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ»

"Lihatlah kepada orang yang ada di bawahmu (dalam urusan dunia) dan janganlah melihat kepada orang yang ada di atasmu. Karena yang demikian itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu." (HR. Muslim, no. 2963)

Perhatikan betapa dalamnya nasihat ini. Rasulullah tidak melarang kita melihat ke atas dalam urusan akhirat, seperti ilmu, ketakwaan, dan ibadah. Tapi dalam urusan duniawi, kita diajak melihat ke bawah, agar kita menyadari betapa banyak nikmat yang sudah Allah berikan kepada kita yang kita sendiri sering lupa.

Hasad: Racun Hati yang Merusak dari Dalam

Membandingkan diri dengan orang lain yang tidak dikendalikan akan melahirkan hasad, yaitu rasa iri dan dengki. Dan Islam memperingatkan kita dengan sangat keras tentang bahaya hasad ini:

«إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ، فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ»

"Jauhilah oleh kalian sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan-kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar." (HR. Abu Dawud, no. 4903)

Bayangkan seluruh pahala ibadahmu, shalat, puasa, sedekah, dzikir, semuanya bisa dimakan habis oleh hasad yang kamu pelihara dalam hati. Ini bukan ancaman kosong. Ini adalah peringatan dari Nabi yang paling mencintai umatnya.

Insecure yang tidak diatasi akan tumbuh menjadi hasad. Dan hasad akan merusak dirimu lebih dalam daripada yang kamu bayangkan.

Penyebab Insecure Menurut Perspektif Islam

Untuk bisa menyembuhkan sesuatu, kita perlu memahami akarnya. Islam mengajarkan bahwa insecure dan rasa tidak percaya diri yang berlebihan biasanya bersumber dari beberapa hal berikut:

1. Jauh dari Allah dan Lupa akan Hakikat Diri

Ketika hati jauh dari Allah, ia menjadi mudah goyah oleh apa yang dilihat dan didengar dari dunia luar. Kita lupa bahwa identitas kita yang sesungguhnya bukan ditentukan oleh penampilan, harta, atau pencapaian duniawi, melainkan oleh kedekatan kita dengan Sang Pencipta.

2. Terlalu Sering Terpapar Citra yang Tidak Realistis

Media sosial menampilkan versi terbaik dan paling dipoles dari kehidupan orang lain. Foto yang sudah diedit, momen-momen bahagia yang dipilih, dan pencapaian yang dirayakan, semua itu hanyalah secuil dari kenyataan hidup seseorang. Namun otak kita, jika tidak waspada, akan memproses semua itu seolah itulah keseluruhan hidup mereka.

3. Kurang Bersyukur atas Nikmat yang Ada

Ketika kita terlalu fokus pada apa yang tidak kita miliki, kita buta terhadap apa yang sudah ada. Inilah yang disebut sebagai kufur nikmat, dan ia adalah salah satu akar utama dari rasa tidak puas dan insecure yang berkepanjangan.

4. Lingkungan yang Kurang Mendukung

Pergaulan sangat memengaruhi cara kita memandang diri sendiri. Jika kita dikelilingi orang-orang yang suka merendahkan atau membandingkan, perasaan tidak berharga akan terus dipupuk.

7 Cara Mengatasi Insecure Menurut Islam

Islam tidak hanya mendiagnosa masalah, ia juga memberikan solusi yang konkret, mendalam, dan menyentuh akar persoalannya. Berikut adalah tujuh cara yang bisa kamu mulai hari ini:

1. Bangun Kebiasaan Bersyukur yang Sungguh-Sungguh

Bersyukur bukan sekadar mengucapkan "alhamdulillah" di bibir. Bersyukur adalah kesadaran hati yang aktif bahwa setiap hal baik dalam hidupmu adalah pemberian dari Allah yang tidak layak kamu remehkan. Allah sendiri telah berjanji dengan sangat tegas:

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7)

Mulailah dengan latihan sederhana: setiap pagi sebelum membuka ponsel, tuliskan tiga hal yang kamu syukuri hari ini. Bukan hal besar. Matamu bisa melihat. Napasmu masih berjalan. Ada orang yang menyayangimu. Hal-hal kecil inilah yang sering kita lupa, padahal bagi sebagian orang, hal itu adalah doa yang belum terkabul.

2. Ingat dan Yakini bahwa Allah Menciptakanmu dengan Sempurna

Ini bukan kalimat motivasi biasa. Ini adalah fakta teologis yang Allah tegaskan sendiri dalam Al-Quran:

لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tin: 4)

Kamu bukan kecelakaan. Kamu bukan versi yang kurang sempurna dari orang lain. Allah menciptakanmu persis seperti yang Dia kehendaki, dengan kelebihan yang hanya kamu miliki, dengan jalan hidup yang hanya untukmu. Kulit yang berbeda, tubuh yang berbeda, wajah yang berbeda, semua itu bukan kekurangan. Itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang menciptakan setiap manusia unik dan berbeda.

Setiap kali bisikan insecure itu datang saat melihat cermin atau melihat foto orang lain, hadirkan ayat ini dalam hatimu. Allah yang menciptakanmu berkata kamu diciptakan dalam sebaik-baik bentuk. Siapa yang lebih layak dipercaya dari pernyataan Sang Pencipta?

3. Kenali dan Fokus pada Kelebihan yang Allah Berikan Padamu

Setiap manusia diberi kelebihan yang berbeda-beda. Kamu mungkin tidak sepandai si A dalam akademik, tapi kamu punya empati yang luar biasa. Kamu mungkin tidak sekaya si B, tapi kamu punya ketulusan yang jarang dimiliki orang. Kamu mungkin tidak secantik si C menurut standar dunia, tapi kamu punya akhlak yang membuatmu bersinar.

Ambil selembar kertas dan tuliskan kelebihan-kelebihanmu. Minta perspektif dari sahabat atau keluarga yang terpercaya. Kamu akan terkejut betapa banyak hal baik yang ada dalam dirimu yang selama ini kamu abaikan karena terlalu sibuk melihat kelebihan orang lain.

4. Kurangi Paparan Media Sosial yang Memicumu

Ini bukan berarti kamu harus menghapus semua akun media sosial. Tapi perlu ada kesadaran tentang apa yang kamu konsumsi dan bagaimana itu memengaruhi hatimu. Rasulullah mengajarkan kita untuk menjaga kesehatan hati, karena hati adalah pusat segalanya:

«أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ»

"Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka seluruh jasad akan baik. Jika ia rusak, maka seluruh jasad pun akan rusak. Ketahuilah, ia adalah hati." (HR. Bukhari, no. 52 dan Muslim, no. 1599)

Praktis yang bisa kamu coba: unfollow atau mute akun-akun yang sering membuatmu merasa tidak cukup. Ganti dengan konten yang menginspirasi dan mengingatkanmu pada Allah. Tetapkan waktu bebas ponsel, misalnya satu jam pertama setelah bangun dan satu jam sebelum tidur. Gunakan waktu itu untuk Al-Quran, dzikir, atau refleksi diri.

5. Bergaul dengan Orang-Orang Sholeh yang Menguatkan

Lingkungan adalah salah satu faktor terbesar yang membentuk cara kita memandang diri. Rasulullah mengibaratkan pengaruh teman dengan sangat indah:

«مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ»

"Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Dari penjual minyak wangi, engkau bisa mendapatkan minyak wanginya atau sekurang-kurangnya engkau mendapatkan bau wanginya. Adapun pandai besi, maka ia bisa membakar pakaianmu atau engkau mendapatkan bau tidak sedapnya." (HR. Bukhari, no. 2101 dan Muslim, no. 2628)

Carilah sahabat yang ketika kamu bersamanya, kamu merasa lebih dekat dengan Allah, bukan lebih jauh. Sahabat yang mengingatkanmu akan kelebihanmu, bukan yang terus membandingkanmu dengan orang lain. Komunitas pengajian, kelompok belajar Al-Quran, atau komunitas muslimah positif di sekitarmu bisa menjadi tempat kamu menemukan lingkungan yang menguatkan ini.

6. Amalkan Dzikir Pagi dan Petang sebagai Perisai Hati

Dzikir bukan sekadar ritual. Ia adalah terapi hati yang telah terbukti selama berabad-abad. Allah berfirman:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'du: 28)

Mulailah dengan dzikir pagi yang sederhana namun konsisten. Bacaan "Alhamdulillahi rabbil 'alamin" yang diresapi dengan sungguh-sungguh akan mengingatkanmu bahwa segala puji hanya untuk Allah, bukan untuk standar manusia di media sosial. Tambahkan doa perlindungan dari hasad dan hati yang tidak tenang.

Dzikir "Subhanallah wa bihamdihi, subhanallahil 'adzim" yang diulang seratus kali di pagi hari, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah, mampu membersihkan hati dari kerak-kerak negatif yang menempel sepanjang hari.

7. Bersedekah untuk Membangun Kembali Harga Dirimu

Ini mungkin cara yang tidak terpikirkan sebelumnya, tapi efeknya nyata. Ketika kamu memberi kepada orang lain, kamu mengingatkan dirimu sendiri bahwa kamu adalah orang yang memiliki, bukan orang yang kekurangan. Kamu punya sesuatu untuk dibagikan. Kamu berharga karena kamu bisa memberi manfaat.

Sedekah tidak harus berupa uang. Senyum kepada adikmu. Bantuan tenaga kepada tetangga. Ilmu yang kamu bagikan di grup belajar. Semua itu adalah sedekah. Dan setiap kali kamu memberi, Allah menanamkan rasa cukup yang lebih dalam di hatimu, rasa yang tidak bisa dibeli oleh berapapun likes di media sosial.

Doa agar Hati Tenang dan Terjauhkan dari Sifat Tidak Bersyukur

Ukhti, di samping ikhtiar, jangan pernah lupa bahwa kekuatan hati adalah anugerah dari Allah. Maka mintalah kepada-Nya. Rasulullah sendiri mengajarkan doa yang sangat indah untuk keteguhan dan ketenangan hati:

«يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ»

"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi, no. 3522)

Baca juga doa ini setiap pagi dan malam:

«اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ»

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa sedih dan gelisah, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, dari beratnya hutang dan penindasan orang." (HR. Bukhari, no. 6363)

Dan jangan lupa untuk sering membaca:

«اللَّهُمَّ قَنِّعْنِي بِمَا رَزَقْتَنِي، وَبَارِكْ لِي فِيهِ، وَاخْلُفْ عَلَى كُلِّ غَائِبَةٍ لِي بِخَيْرٍ»

"Ya Allah, jadikanlah aku merasa cukup dengan apa yang Engkau rezekikan kepadaku, berkahilah aku di dalamnya, dan gantikanlah bagiku setiap yang luput dariku dengan yang lebih baik." (HR. Al-Hakim, no. 1972)

Doa ini adalah pengakuan sekaligus permohonan. Kita mengakui bahwa Allah yang memberi, dan kita meminta agar hati kita bisa menerimanya dengan lapang dan penuh rasa cukup.

Kemuliaan Seorang Muslimah Bukan Ditentukan oleh Penampilan

Di antara semua hal yang perlu kamu pegang erat dalam perjalanan melawan insecure ini, satu hal yang paling fundamental adalah ini: di hadapan Allah, nilaimu tidak diukur dari wajah, tubuh, harta, atau pencapaian duniawi.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu." (QS. Al-Hujurat: 13)

Ketakwaan. Itulah satu-satunya mata uang yang berlaku di hadapan Allah. Dan ketakwaan adalah sesuatu yang bisa diusahakan oleh siapa pun, tidak peduli seberapa cantik atau kayanya seseorang. Ini adalah kabar gembira sekaligus penyejuk hati: kamu bisa menjadi yang paling mulia di hadapan Allah, mulai hari ini, dari mana pun posisimu saat ini.

Insecure yang dipelihara terlalu lama sering berujung pada hasad terhadap orang lain. Penawarnya dibahas di cara menghilangkan iri hati dan dengki.

Penutup: Kamu Sudah Cukup, dan Kamu Sedang Tumbuh

Ukhti yang berhati lembut, perjalanan melawan insecure bukan perjalanan yang selesai dalam semalam. Ia adalah proses yang panjang, kadang dua langkah maju satu langkah mundur. Ada hari-hari di mana hatimu kuat, dan ada hari-hari di mana kamu kembali terhanyut oleh perbandingan.

Itu manusiawi. Dan Allah Maha Mengerti kemanusiaanmu.

Yang penting bukan seberapa sempurna perjalananmu, tapi bahwa kamu tidak menyerah untuk kembali kepada-Nya setiap kali kamu terjatuh. Allah sendiri menegaskan:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali Imran: 139)

Kamu, muslimah yang beriman, memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah. Bukan karena kamu sempurna. Tapi karena kamu beriman dan terus berusaha.

Setiap kali insecure itu datang, ingatlah: kamu tidak sedang bersaing dengan siapa pun. Kamu sedang berlomba dengan dirimu sendiri kemarin. Dan hari ini, dengan membaca ini, dengan rindu untuk menjadi lebih baik, kamu sudah selangkah lebih jauh dari kemarin.

Itu sudah cukup. Kamu sudah cukup. Dan bersama Allah, kamu lebih dari cukup.


FAQ: Pertanyaan Seputar Cara Mengatasi Insecure Menurut Islam

Apakah merasa insecure itu berdosa dalam Islam?

Perasaan insecure sendiri bukan dosa karena ia adalah perasaan manusiawi. Yang perlu diwaspadai adalah ketika insecure itu berkembang menjadi hasad (dengki) terhadap orang lain, atau ketika ia membuat kita kufur nikmat dan tidak bersyukur atas apa yang Allah berikan. Islam mendorong kita untuk mengenali perasaan negatif, lalu mengatasinya dengan cara yang diajarkan Al-Quran dan Sunnah.

Bagaimana cara cepat mengatasi insecure saat melihat media sosial?

Langkah paling cepat adalah segera ingat hadits Rasulullah: lihatlah kepada yang ada di bawahmu dalam urusan dunia. Tutup aplikasi media sosial dan alihkan perhatian ke dzikir atau baca Al-Quran beberapa menit. Kemudian tanyakan pada dirimu: apa saja yang kamu miliki hari ini yang layak disyukuri? Latihan ini, jika dilakukan konsisten, akan membentuk kebiasaan hati yang lebih sehat.

Bolehkah seorang muslimah ingin memperbaiki penampilan? Apakah itu insecure?

Ada perbedaan antara merawat diri karena rasa syukur dan ingin tampil rapi, dengan terobsesi mengubah diri karena merasa tidak cukup. Islam tidak melarang muslimah untuk merawat diri dan tampil indah dalam batas yang syar'i. Yang perlu dihindari adalah ketika usaha memperbaiki penampilan didorong oleh perasaan tidak puas pada ciptaan Allah atau keinginan menyaingi orang lain. Niatkan perawatan diri sebagai bentuk syukur atas tubuh yang Allah amanahkan.

Bagaimana jika insecure saya sangat parah dan sudah berlangsung lama?

Jika rasa insecure sudah sangat mengganggu kehidupan sehari-hari dan berlangsung lama, tidak ada salahnya untuk mencari bantuan dari konselor atau psikolog yang amanah, sekaligus terus memperkuat hubungan dengan Allah. Islam tidak melarang meminta tolong kepada ahlinya. Berdoa, berikhtiar secara spiritual, dan mencari bantuan profesional bisa berjalan berdampingan.

Apakah ada amalan khusus yang dianjurkan untuk menguatkan rasa percaya diri dalam Islam?

Ya, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan. Pertama, perbanyak sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah di sepertiga malam terakhir. Kedua, konsistenlah membaca Al-Quran setiap hari meski sedikit. Ketiga, perbanyak sedekah karena sedekah membuka rasa cukup di hati. Keempat, hadirilah majelis ilmu yang mengingatkanmu pada akhirat. Kelima, jaga sholat lima waktu karena sholat adalah tiang yang menjaga hati tetap kokoh. Semua amalan ini secara bertahap akan membangun fondasi harga diri yang sejati dan tidak tergantung pada penilaian manusia.

Pertanyaan umum

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Accordion responsif agar pembaca cepat menemukan jawaban.

Apakah merasa insecure itu berdosa dalam Islam? +
Perasaan insecure sendiri bukan dosa karena ia adalah perasaan manusiawi. Yang perlu diwaspadai adalah ketika insecure itu berkembang menjadi hasad (dengki) terhadap orang lain, atau ketika ia membuat kita kufur nikmat dan tidak bersyukur atas apa yang Allah berikan. Islam mendorong kita untuk mengenali perasaan negatif, lalu mengatasinya dengan cara yang diajarkan Al-Quran dan Sunnah.
Bagaimana cara cepat mengatasi insecure saat melihat media sosial? +
Langkah paling cepat adalah segera ingat hadits Rasulullah: lihatlah kepada yang ada di bawahmu dalam urusan dunia. Tutup aplikasi media sosial dan alihkan perhatian ke dzikir atau baca Al-Quran beberapa menit. Kemudian tanyakan pada dirimu: apa saja yang kamu miliki hari ini yang layak disyukuri? Latihan ini, jika dilakukan konsisten, akan membentuk kebiasaan hati yang lebih sehat.
Bolehkah seorang muslimah ingin memperbaiki penampilan? Apakah itu insecure? +
Ada perbedaan antara merawat diri karena rasa syukur dan ingin tampil rapi, dengan terobsesi mengubah diri karena merasa tidak cukup. Islam tidak melarang muslimah untuk merawat diri dan tampil indah dalam batas yang syar'i. Yang perlu dihindari adalah ketika usaha memperbaiki penampilan didorong oleh perasaan tidak puas pada ciptaan Allah atau keinginan menyaingi orang lain. Niatkan perawatan diri sebagai bentuk syukur atas tubuh yang Allah amanahkan.
Bagaimana jika insecure saya sangat parah dan sudah berlangsung lama? +
Jika rasa insecure sudah sangat mengganggu kehidupan sehari-hari dan berlangsung lama, tidak ada salahnya untuk mencari bantuan dari konselor atau psikolog yang amanah, sekaligus terus memperkuat hubungan dengan Allah. Islam tidak melarang meminta tolong kepada ahlinya. Berdoa, berikhtiar secara spiritual, dan mencari bantuan profesional bisa berjalan berdampingan.
Apakah ada amalan khusus yang dianjurkan untuk menguatkan rasa percaya diri dalam Islam? +
Ya, ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan. Pertama, perbanyak sholat tahajud dan bermunajat kepada Allah di sepertiga malam terakhir. Kedua, konsistenlah membaca Al-Quran setiap hari meski sedikit. Ketiga, perbanyak sedekah karena sedekah membuka rasa cukup di hati. Keempat, hadirilah majelis ilmu yang mengingatkanmu pada akhirat. Kelima, jaga sholat lima waktu karena sholat adalah tiang yang menjaga hati tetap kokoh. Semua amalan ini secara bertahap akan membangun fondasi harga diri yang sejati dan tidak tergantung pada penilaian manusia.

Komentar

Komentar pembaca

Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar yang disetujui.