Cara mencintai diri sendiri menurut Islam adalah menerima diri sebagai ciptaan Allah yang dimuliakan, mensyukuri nikmat lahir-batin, menjaga kesehatan tubuh dan jiwa, serta memperbaiki diri tanpa menyiksa batin. Self love dalam Islam bukan keangkuhan, melainkan wujud syukur dan tanggung jawab atas amanah yang Allah titipkan.
Belakangan istilah self love populer, tapi sering disalahpahami—seolah mencintai diri berarti menuruti semua keinginan. Islam justru menawarkan konsep yang lebih utuh: mencintai diri karena menyadari nilai diri di hadapan Allah. Inilah fondasi yang membuat rasa cinta pada diri tidak rapuh oleh pujian atau hinaan orang lain.
Apa Itu Self Love dalam Islam?
Self love dalam Islam adalah menghargai diri sebagai makhluk yang dimuliakan Allah, menjaganya, dan mengarahkannya kepada kebaikan—bukan mencintai diri secara berlebihan hingga sombong (ujub) atau egois. Allah berfirman, "Sungguh, Kami telah memuliakan anak-anak Adam…" (QS Al-Isra: 70), dan menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (QS At-Tin: 4). Menyadari kemuliaan ini adalah titik awal mencintai diri dengan benar.
Baca juga:
Apakah Self Love Itu Egois atau Bertentangan dengan Islam?
Tidak. Yang bertentangan dengan Islam adalah ujub (kagum berlebihan pada diri) dan mengabaikan kewajiban demi kesenangan. Self love yang benar bersifat seimbang: mencintai diri, mencintai sesama, dan puncaknya mencintai Allah. Bahkan Islam melarang kita menyakiti diri sendiri, menzalimi tubuh, atau berputus asa—semua itu bentuk tidak menghargai amanah dari Allah.
Bagaimana Cara Mencintai Diri Sendiri Menurut Islam?
- Terima diri sebagai ciptaan terbaik Allah. Berhenti membenci fisik atau takdir yang tak bisa diubah. Menerima diri adalah bentuk husnuzan kepada Sang Pencipta.
- Bersyukur atas nikmat lahir dan batin. "Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS Ibrahim: 7). Syukur mengubah fokus dari kekurangan menjadi keberlimpahan.
- Jaga kesehatan tubuh. Makan halal-baik, tidur cukup, dan berolahraga. Tubuh adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban.
- Rawat kesehatan jiwa. Jauhi stres berlebih, berprasangka baik, dan cari ketenangan lewat dzikir dan doa.
- Berhenti membandingkan diri. Media sosial memicu rasa "kurang". Setiap orang punya takdir dan ujian sendiri.
- Tetapkan batasan sehat. Berani berkata "tidak" pada hal yang menguras dan menyakitimu adalah bentuk menghargai diri.
- Perbaiki diri tanpa menyiksa batin. Bertumbuh karena cinta pada kebaikan, bukan karena benci pada diri.
Self Love yang Islami vs Self Love yang Keliru
| Self love yang Islami | Self love yang keliru |
|---|---|
| Menerima diri sambil terus memperbaiki | Membenarkan semua keburukan atas nama "aku apa adanya" |
| Menjaga tubuh sebagai amanah | Menuruti semua hawa nafsu tanpa batas |
| Bersyukur atas nikmat | Merasa berhak dan tidak pernah puas |
| Menetapkan batasan sehat | Egois dan mengabaikan hak orang lain |
| Percaya diri karena Allah | Sombong dan merendahkan orang lain |
Tanda Kamu Belum Mencintai Diri dengan Benar
Banyak muslimah mengira sudah menghargai diri, padahal belum. Kenali tandanya agar bisa segera diperbaiki:
- Terus-menerus mengkritik diri sendiri dan sulit memaafkan kesalahan sendiri.
- Selalu membandingkan hidup dengan orang lain di media sosial hingga merasa tidak pernah cukup.
- Menyepelekan kebutuhan istirahat, kesehatan, dan ketenangan demi menyenangkan semua orang.
- Bergantung penuh pada pujian orang lain untuk merasa berharga.
- Mengabaikan hak tubuh: kurang tidur, makan sembarangan, dan memendam stres.
Jika beberapa tanda ini terasa dekat denganmu, itu bukan aib—justru titik awal untuk berbenah dengan cara yang Allah ridhai.
Rutinitas Sederhana Merawat Jiwa dan Raga
Mencintai diri diwujudkan dalam kebiasaan kecil yang konsisten, bukan sekadar perasaan:
| Dimensi | Bentuk perawatan |
|---|---|
| Ruhani | Sholat tepat waktu, dzikir pagi-petang, tilawah, dan muhasabah |
| Fisik | Tidur cukup, makan halal-baik, minum air, dan bergerak/olahraga |
| Emosi | Mengizinkan diri merasa, menulis jurnal syukur, dan bercerita pada sahabat salihah |
| Sosial | Menetapkan batasan sehat dan menjauh dari relasi yang toksik |
Perhatikan bahwa merawat ruhani menempati urutan pertama—sebab jiwa yang dekat dengan Allah adalah sumber ketenangan yang tidak bisa digantikan hal lain.
Dalil yang Menguatkan Konsep Menghargai Diri
Selain QS Al-Isra: 70 dan At-Tin: 4, Islam melarang kita mencela diri sendiri secara berlebihan atau berputus asa: "…dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah." (QS Yusuf: 87). Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar kita menjaga hak tubuh: "Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu." (HR Bukhari). Ini menegaskan bahwa merawat diri adalah bagian dari ketaatan.
Apakah Me Time dan Self Care Dibolehkan dalam Islam?
Ya, selama tidak melanggar syariat dan tidak mengabaikan kewajiban. Memberi diri waktu untuk beristirahat, menenangkan pikiran, dan memulihkan energi adalah bagian dari menunaikan hak tubuh dan jiwa. Rasulullah ﷺ menegaskan adanya keseimbangan hak: "Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu; maka tunaikanlah hak masing-masing." (HR Bukhari). Me time yang islami bukan pelarian dari tanggung jawab, melainkan jeda sejenak agar kembali kuat beribadah dan berbuat baik. Isilah dengan hal yang menyegarkan sekaligus tidak melalaikan—membaca, berjalan di alam, merapikan diri, atau sekadar hening berdzikir. Muslimah yang terisi jiwanya akan lebih mampu memberi kepada orang di sekitarnya.
Ketika Merasa Tidak Cukup Baik
Banyak muslimah bergulat dengan rasa insecure dan minder. Jika itu yang kamu rasakan, self love adalah obatnya—bukan dengan validasi orang lain, melainkan dengan menyandarkan harga diri pada Allah. Pelajari lebih jauh cara mengatasi insecure menurut Islam dan bagaimana melepas perfeksionisme serta menerima diri. Jika kamu sering merasa "kurang" karena media sosial, baca juga mengapa aku merasa kurang cukup.
Komentar
Komentar pembaca
Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.
Tinggalkan komentar