Jawaban singkat: Sholat dhuha dikerjakan minimal dua rakaat dengan salam setiap dua rakaat. Niatnya Ushallii sunnatadh dhuhaa rak'ataini lillaahi ta'aalaa. Waktunya dimulai sekitar lima belas menit setelah matahari terbit sampai menjelang masuk waktu zuhur, dan yang paling utama adalah ketika matahari sudah terasa terik.
Dari semua sholat sunnah, dhuha mungkin yang paling ramah untuk perempuan yang harinya padat. Ia tidak menuntut Anda bangun malam, tidak menuntut Anda menunda pekerjaan, dan cukup dikerjakan di sela pagi ketika anak sudah berangkat sekolah atau ketika Anda baru sampai di kantor.
Namun ada satu hal yang perlu diluruskan sejak awal, dan justru inilah yang paling jarang dibahas. Sholat dhuha memang sangat kuat dalilnya. Tetapi doa dhuha yang beredar di mana-mana, yang dimulai dengan اللَّهُمَّ إِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاؤُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَاؤُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ
Allaahumma innadh dhuhaa-a dhuhaa-uka, bukanlah hadis sahih dari Rasulullah. Penjelasan lengkapnya ada di bagian bawah tulisan ini, dan saya sarankan Anda tidak melewatkannya.
Tulisan ini melengkapi keutamaan sholat dhuha yang membahas sisi "mengapa". Di sini kita bahas sisi "bagaimana".
Apa Dalil Sholat Dhuha?
Berbeda dengan sebagian amalan yang populer namun lemah, dhuha berdiri di atas hadis-hadis yang sangat kuat. Setidaknya ada tiga.
Pertama, wasiat khusus kepada Abu Hurairah:
"Kekasihku Rasulullah mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, dua rakaat dhuha, dan mengerjakan witir sebelum tidur."
HR. Bukhari dan Muslim
Kedua, hadis tentang tiga ratus enam puluh persendian:
"Setiap ruas tulang salah seorang dari kalian pada pagi hari ada sedekahnya. Setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, amar makruf adalah sedekah, nahi mungkar adalah sedekah. Semua itu cukup diganti dengan dua rakaat yang dikerjakan pada waktu dhuha."
HR. Muslim
Perhatikan betapa efisiennya. Dua rakaat pendek mencukupi kewajiban sedekah tiga ratus enam puluh persendian. Untuk seorang ibu yang paginya habis di dapur dan mengantar anak, ini kabar yang sangat melegakan.
Ketiga, hadis tentang kecukupan sepanjang hari, di mana Allah berfirman agar hamba-Nya tidak meninggalkan empat rakaat di awal siang, niscaya Dia mencukupinya di akhir siang. Diriwayatkan Abu Dawud dan Tirmidzi.
Bagaimana Bacaan Niat Sholat Dhuha?
أُصَلِّي سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatadh dhuhaa rak'ataini lillaahi ta'aalaa
"Aku berniat sholat sunnah dhuha dua rakaat karena Allah Ta'ala."
Sebagaimana sholat sunnah lainnya, niat tempatnya di hati dan bersamaan dengan takbiratul ihram. Tidak hafal lafaz Arabnya bukan penghalang sama sekali.
Sholat Dhuha Berapa Rakaat?
Minimal dua rakaat, dikerjakan dengan salam setiap dua rakaat. Untuk batas maksimalnya, para ulama berbeda pendapat, dan perbedaan itu bersumber dari kekuatan riwayat yang berbeda-beda:
| Jumlah | Dasar | Catatan |
|---|---|---|
| 2 rakaat | Wasiat kepada Abu Hurairah, riwayat Bukhari dan Muslim | Paling kuat, dan paling realistis untuk dirutinkan |
| 4 rakaat | Aisyah menyebut Nabi sholat dhuha empat rakaat dan menambah sesuai kehendak Allah, riwayat Muslim | Sangat kuat |
| 8 rakaat | Ummu Hani menyebut Nabi sholat delapan rakaat pada hari penaklukan Mekah, riwayat Bukhari dan Muslim | Kuat |
| 12 rakaat | Riwayat tentang dibangunkan rumah di surga | Sebagian ulama menilai riwayatnya lemah, jadi tidak perlu dipaksakan |
Saran praktisnya: pilih dua atau empat rakaat, lalu jaga agar tidak bolong. Empat rakaat setiap hari jauh lebih bernilai daripada dua belas rakaat sekali sebulan.
Jam Berapa Waktu Sholat Dhuha?
Waktu dhuha dimulai ketika matahari sudah naik kira-kira setinggi satu tombak, yang secara praktis berarti sekitar lima belas sampai dua puluh menit setelah matahari terbit. Waktunya berakhir ketika matahari mulai tergelincir, yaitu beberapa menit sebelum masuk waktu zuhur.
| Rentang | Perkiraan jam di Indonesia | Keterangan |
|---|---|---|
| Awal waktu | Sekitar 06.15 sampai 06.30 | Sudah sah, namun bukan yang paling utama |
| Waktu utama | Sekitar 08.30 sampai 10.30 | Saat matahari sudah terasa panas, inilah yang dianjurkan |
| Akhir waktu | Sekitar 11.30, sebelum zuhur | Berhenti beberapa menit sebelum matahari tepat di atas kepala |
Patokan waktu utamanya datang dari sabda Rasulullah bahwa sholat orang-orang yang kembali kepada Allah adalah ketika anak unta merasakan panasnya matahari, diriwayatkan Imam Muslim. Jam-jam di tabel ini adalah perkiraan; sesuaikan dengan jadwal terbit matahari dan zuhur di kota Anda.
Tata Cara Sholat Dhuha Langkah demi Langkah
- Pastikan waktunya sudah masuk, yaitu matahari sudah naik sekitar lima belas menit setelah terbit. Ini penting karena sholat sunnah terlarang tepat saat matahari sedang terbit.
- Berwudhulah dan menghadap kiblat.
- Bertakbiratul ihram sambil berniat sholat sunnah dhuha dua rakaat.
- Rakaat pertama: baca Al-Fatihah lalu surat yang Anda hafal. Banyak ulama menganjurkan Asy-Syams, sebagian menganjurkan Al-Kafirun. Keduanya anjuran, bukan keharusan.
- Rukuk, itidal, sujud, duduk di antara dua sujud, sujud kedua dengan tumakninah.
- Rakaat kedua: baca Al-Fatihah lalu surat pilihan, misalnya Adh-Dhuha atau Al-Ikhlas.
- Tasyahud akhir lalu salam.
- Ulangi bila ingin menambah menjadi empat, enam, atau delapan rakaat, selalu dengan salam setiap dua rakaat.
- Berdoalah dengan memuji Allah, bershalawat, lalu menyampaikan permohonan Anda.
Apakah Doa Sholat Dhuha yang Populer Itu Hadis Sahih?
Ini bagian yang perlu dijelaskan dengan jujur. Doa yang hampir selalu dicetak di buku dan dibagikan di media sosial berbunyi kurang lebih:
Allaahumma innadh dhuhaa-a dhuhaa-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka...
"Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, dan penjagaan adalah penjagaan-Mu..."
Isinya baik dan tidak ada yang bertentangan dengan akidah. Namun para ulama menjelaskan bahwa doa ini tidak memiliki sanad yang sahih sampai kepada Rasulullah. Ia lebih tepat disebut doa susunan ulama yang kemudian diamalkan turun-temurun, bukan lafal yang diajarkan Nabi secara khusus untuk dhuha.
Lalu apakah haram membacanya? Tidak. Berdoa dengan lafal yang baik hukumnya boleh, dan tidak ada larangan menyusun doa sendiri. Yang perlu dijaga hanyalah dua hal:
- Jangan meyakini lafal ini wajib atau bahwa dhuha tidak sah tanpanya. Dhuha Anda sah meskipun Anda hanya berdoa dengan bahasa Indonesia.
- Jangan menisbatkannya kepada Rasulullah sebagai hadis, karena menyandarkan sesuatu kepada Nabi tanpa dasar termasuk perkara yang berat.
Alternatif yang sanadnya kokoh? Bacalah doa apa pun dari Al-Quran dan hadis sahih setelah dhuha, misalnya اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
Allaahummakfinii bihalaalika an haraamika wa aghninii bifadhlika amman siwaak yang diriwayatkan Tirmidzi, atau perbanyak istighfar dan sampaikan hajat Anda dengan bahasa sendiri.
Benarkah Sholat Dhuha Pembuka Rezeki?
Sebutan ini punya dasar, tetapi sering dipahami terlalu sempit. Hadis yang menjadi rujukannya adalah firman Allah agar hamba-Nya tidak meninggalkan empat rakaat di awal siang, niscaya Dia mencukupinya di akhir siang. Kata kuncinya adalah mencukupi, bukan melipatgandakan.
Perbedaannya besar. Dicukupkan berarti kebutuhan Anda terpenuhi dan hati Anda tenang, dan itu bisa terjadi dengan penghasilan yang sama persis seperti bulan lalu. Banyak orang mengejar dhuha sebagai mesin penambah penghasilan, lalu kecewa ketika angka di rekening tidak berubah, padahal yang dijanjikan memang bukan itu.
Kalau Anda ingin memahami bentuk keberkahan yang sebenarnya, ada pembahasan terpisah di tanda rezeki berkah menurut Islam dan amalan agar rezeki lancar menurut Islam.
Cara Merutinkan Dhuha untuk Muslimah yang Sibuk
Bagian ini yang biasanya tidak ada di panduan mana pun, padahal justru di sinilah kebanyakan orang gagal. Bukan karena tidak tahu caranya, melainkan karena tidak punya tempatnya dalam hari yang sudah penuh.
- Tempelkan pada kebiasaan yang sudah ada. Jangan pasang alarm pukul sembilan. Tempelkan dhuha pada kejadian yang pasti terjadi: sepulang mengantar anak, atau sesaat setelah duduk di meja kerja.
- Mulai dari dua rakaat. Target kecil yang bertahan mengalahkan target besar yang berhenti di minggu kedua.
- Siapkan tempat sholat yang tidak perlu dibereskan dulu. Hambatan sekecil harus mencari mukena sering cukup untuk membatalkan niat.
- Kerjakan di kantor tanpa menunggu ruangan ideal. Musala kantor, ruang rapat kosong, atau sudut yang bersih semuanya sah.
- Sedang haid? Jangan hilangkan slot waktunya. Isi dengan dzikir atau membaca terjemah Al-Quran, supaya ketika suci Anda tidak perlu membangun kebiasaan dari nol lagi.
Kerangka membangun rutinitas pagi yang lebih lengkap ada di rutinitas harian muslimah produktif.
Penutup
Sholat dhuha itu sederhana: dua rakaat, di pagi yang sudah menghangat, sebelum dunia sempat menuntut terlalu banyak dari Anda. Tidak butuh persiapan panjang dan tidak butuh hafalan panjang.
Kalau selama ini Anda menundanya karena merasa belum hafal doanya, mulailah besok pagi tanpa doa itu. Dua rakaat, lalu bicara kepada Allah dengan bahasa Anda sendiri. Itu sudah utuh.
Komentar
Komentar pembaca
Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.
Tinggalkan komentar