Menerima atau menolak sebuah lamaran adalah salah satu keputusan paling menentukan dalam hidup seorang muslimah. Bukan hanya karena menyangkut puluhan tahun ke depan, tetapi karena orang yang Anda pilih akan sangat menentukan bagaimana Anda beribadah, bagaimana anak-anak Anda dibesarkan, dan bagaimana Anda menghadapi ujian di masa depan.
Masalahnya, banyak muslimah menilai calon suami dengan kriteria yang justru paling tidak diprioritaskan Islam: penghasilan, penampilan, dan kesan pertama yang menyenangkan. Sementara hal-hal yang benar-benar menentukan justru tidak pernah dicek. Artikel ini menyusun kriteria calon suami menurut Islam beserta cara memverifikasinya secara nyata, bukan sekadar teori.
Dua Kriteria Utama Menurut Rasulullah
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberikan patokan yang sangat ringkas:
"Apabila datang kepada kalian seorang laki-laki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak kalian lakukan, akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas."
HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari Abu Hatim Al-Muzani
Perhatikan bahwa hanya dua hal yang disebut: agama dan akhlak. Tidak disinggung kemapanan, keturunan, atau ketampanan. Ini bukan berarti hal-hal tersebut terlarang untuk dipertimbangkan, tetapi keduanya jelas bukan penentu utama.
Alasannya masuk akal. Harta bisa datang dan pergi. Ketampanan berubah oleh usia. Yang paling stabil menghadapi tekanan bertahun-tahun adalah kualitas agama dan akhlak seseorang.
Tujuh Kriteria dan Cara Memverifikasinya
1. Agamanya: Lihat Sholatnya, Bukan Ceramahnya
Kriteria agama sering disalahpahami sebagai "pandai berbicara soal agama". Padahal ukuran paling jujur adalah hal yang paling rutin dan paling sulit dipalsukan, yaitu sholat lima waktu.
Cara memverifikasi: Tanyakan pada teman kerja atau teman kosnya, bukan pada dirinya sendiri. Bagaimana ia saat waktu sholat tiba di tengah pekerjaan? Apakah ia menunda sampai batas akhir? Apakah ia sholat berjamaah di masjid bila memungkinkan? Jawaban dari orang ketiga jauh lebih berharga daripada pengakuan langsung.
2. Akhlaknya: Perhatikan pada Orang yang Tidak Menguntungkannya
Semua orang berakhlak baik pada orang yang sedang ia inginkan. Akhlak yang sebenarnya muncul pada orang yang tidak memberinya keuntungan apa pun.
Cara memverifikasi: Perhatikan cara ia memperlakukan pelayan restoran, petugas parkir, dan ojek online. Perhatikan cara ia bicara tentang mantan atau tentang orang yang pernah menolaknya. Perhatikan reaksinya ketika rencana berantakan atau ketika ia dikritik. Kesabaran seseorang paling terlihat saat ia sedang tidak mendapatkan yang ia mau.
3. Cara Ia Memperlakukan Ibu dan Saudara Perempuannya
Ini indikator yang sangat kuat dan sering diabaikan. Cara seorang laki-laki memperlakukan perempuan di keluarganya adalah gambaran paling dekat dengan cara ia akan memperlakukan istrinya kelak.
Cara memverifikasi: Amati apakah ia menghormati ibunya atau justru memerintah dengan nada tinggi. Apakah ia terlibat membantu di rumah atau menganggap semua urusan rumah adalah tugas perempuan. Pemahamannya tentang berbakti kepada orang tua akan sangat menentukan dinamika rumah tangga Anda nanti.
4. Tanggung Jawab terhadap Nafkah
Islam mewajibkan suami menafkahi istri, dan ini bukan hal opsional. Allah berfirman, "Laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka telah menafkahkan sebagian harta mereka" (QS. An-Nisa: 34).
Namun yang dinilai adalah tanggung jawab, bukan besarnya angka. Laki-laki dengan penghasilan sederhana yang jujur dan tidak berutang untuk gaya hidup jauh lebih aman daripada yang berpenghasilan besar tetapi konsumtif dan terlilit pinjaman.
Cara memverifikasi: Bicarakan secara terbuka saat taaruf tentang penghasilan, utang yang sedang berjalan, tanggungan keluarga, dan rencana keuangan setelah menikah. Pertanyaan ini tidak tabu, justru wajib. Untuk gambaran pengelolaannya, baca cara mengatur keuangan rumah tangga menurut Islam.
5. Kemampuan Mengelola Emosi
Rasulullah bersabda, "Orang kuat bukanlah yang jago bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah" (HR. Bukhari dan Muslim).
Cara memverifikasi: Cari tahu bagaimana ia bereaksi saat berselisih dengan teman atau atasan. Apakah ia pernah melakukan kekerasan fisik atau verbal pada siapa pun? Apakah ia mendiamkan orang berhari-hari saat kesal? Pola komunikasi saat konflik adalah salah satu penentu terbesar kelangsungan rumah tangga.
6. Kesamaan Visi Hidup
Dua orang yang sama-sama sholeh tetap bisa mengalami konflik berat bila arah hidupnya berbeda. Perbedaan visi biasanya baru muncul setelah menikah, dan saat itu sudah terlambat untuk dinegosiasikan dengan tenang.
Cara memverifikasi: Bahas secara eksplisit sebelum akad: apakah istri boleh bekerja setelah menikah, berapa anak yang diinginkan, akan tinggal di mana, bagaimana pola pendidikan anak, dan bagaimana pembagian peran di rumah. Bila salah satu topik ini dihindari, itu sendiri sudah merupakan informasi.
7. Penerimaan terhadap Diri Anda Apa Adanya
Perhatikan apakah ia menerima Anda sebagaimana adanya atau sedang membayangkan versi Anda yang lain. Laki-laki yang sejak awal mengajukan syarat perubahan besar pada penampilan, karier, atau kepribadian Anda biasanya akan terus mengajukan syarat baru setelah menikah.
Tabel Prioritas: Mana yang Wajib, Penting, dan Bonus
| Kriteria | Tingkat | Alasan |
|---|---|---|
| Agama dan sholatnya | Wajib | Disebut langsung dalam hadits sebagai patokan utama |
| Akhlak dan cara mengelola marah | Wajib | Menentukan keamanan Anda sehari-hari |
| Tanggung jawab nafkah | Wajib | Kewajiban syariat yang melekat pada suami |
| Kesamaan visi hidup | Penting | Sumber konflik terbesar bila diabaikan |
| Kesiapan mental dan usia | Penting | Pernikahan menuntut kematangan, bukan hanya niat baik |
| Besarnya penghasilan | Bonus | Bisa berubah, yang dinilai adalah tanggung jawabnya |
| Ketampanan dan latar belakang keluarga | Bonus | Menyenangkan, tetapi tidak menentukan keberlangsungan |
Tanda Bahaya yang Tidak Boleh Diabaikan
Bagian ini sama pentingnya dengan daftar kriteria, karena satu tanda bahaya bisa membatalkan sepuluh kelebihan.
- Pernah melakukan kekerasan fisik atau verbal pada siapa pun, termasuk pada keluarganya sendiri. Jangan pernah berasumsi pernikahan akan menyembuhkannya.
- Menolak dikenalkan pada keluarganya atau selalu punya alasan menunda pertemuan resmi.
- Meminta hal-hal yang melanggar syariat sebelum akad, seperti berduaan tanpa mahram atau kontak fisik. Bila batas syariat saja tidak ia hormati saat sedang berusaha mendapatkan Anda, sulit berharap ia menjaganya nanti.
- Tidak transparan soal status dan riwayat, misalnya pernikahan sebelumnya, anak, atau utang yang disembunyikan.
- Membicarakan buruk semua orang di masa lalunya, terutama mantan pasangan. Suatu hari Anda akan menjadi bagian dari masa lalu itu.
- Melarang Anda meminta pertimbangan orang tua atau memisahkan Anda dari lingkaran terdekat.
Bila salah satu tanda ini muncul, jangan buru-buru mencari pembenaran. Perasaan takut tidak dapat pengganti sering membuat muslimah bertahan pada pilihan yang jelas berbahaya. Bila Anda sedang berada di fase ini, artikel cara sabar menunggu jodoh menurut Islam mungkin lebih relevan untuk dibaca dulu.
Proses yang Dianjurkan Islam
Melihat Calon Sebelum Melamar
Islam justru menganjurkan kedua pihak saling melihat sebelum menikah. Rasulullah bersabda kepada seorang sahabat yang hendak menikah, "Lihatlah ia, karena hal itu lebih layak untuk melanggengkan hubungan kalian" (HR. Tirmidzi). Yang dilarang adalah berduaan tanpa mahram dan hubungan tanpa ikatan, bukan proses saling mengenal itu sendiri. Pembahasan lengkapnya ada di apakah pacaran haram menurut Islam.
Mencari Informasi dari Pihak Ketiga
Bertanya kepada orang yang mengenal calon suami bukan termasuk ghibah bila tujuannya untuk pertimbangan pernikahan. Ini termasuk pengecualian yang disepakati para ulama. Tanyakan kepada minimal tiga orang dari lingkungan berbeda: keluarga, teman kerja, dan teman komunitas.
Sholat Istikharah dan Musyawarah
Setelah informasi terkumpul, kerjakan sholat istikharah dan mintalah pertimbangan orang tua. Istikharah bukan pengganti proses pencarian informasi, melainkan penutupnya. Jangan beristikharah atas sesuatu yang datanya belum Anda kumpulkan sama sekali.
Setelah Kriteria Terpenuhi, Siapkan Diri Sendiri
Satu hal yang sering terlupakan: mencari suami yang baik menuntut kesiapan menjadi istri yang baik pula. Allah berfirman bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik (QS. An-Nur: 26).
Selagi menunggu, perbaiki kualitas diri, ilmu agama, dan kesiapan mental Anda. Panduan praktisnya bisa dimulai dari cara menjadi istri sholehah dalam Islam. Kesiapan ini bukan hanya membuat Anda lebih layak, tetapi juga membuat Anda lebih jernih saat menilai orang lain.
Penutup
Kriteria calon suami menurut Islam sebenarnya tidak rumit: agama yang terbukti dalam sholatnya, akhlak yang terbukti pada orang yang tidak menguntungkannya, dan tanggung jawab yang terbukti dalam perbuatan bukan janji.
Jangan tergesa hanya karena usia atau tekanan sosial, dan jangan pula terlalu memperumit sampai menolak orang baik karena hal-hal yang tidak prinsip. Kumpulkan informasinya dengan serius, mintalah petunjuk melalui istikharah, lalu ambil keputusan dengan tenang. Selebihnya, serahkan pada Allah yang lebih tahu siapa yang paling baik untuk Anda.
Baca juga: Tanda-Tanda Allah Sayang Sama Kita yang Sering Tidak Kita Sadari.
Komentar
Komentar pembaca
Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.
Tinggalkan komentar