Kalau kamu sedang membaca artikel ini, ada kemungkinan besar kamu sedang berada di titik yang sama dengan jutaan muslimah lain di luar sana: ingin menjadi lebih baik, ingin lebih dekat dengan Allah, ingin menjadi perempuan yang benar-benar berarti di dunia ini dan di akhirat nanti. Dan itu bukan hal yang kecil. Itu adalah salah satu keinginan paling mulia yang bisa dimiliki seorang manusia.
Tapi sering kali, kita terbentur pada satu pertanyaan yang tampak sederhana namun ternyata dalam sekali: wanita sholehah itu sebenarnya seperti apa?
Banyak dari kita tumbuh dengan gambaran wanita sholehah yang agak kaku: diam di rumah, tidak banyak bicara, selalu menunduk, tidak punya pendapat. Padahal gambaran itu jauh dari apa yang Al-Quran dan Sunnah ajarkan. Wanita sholehah dalam Islam adalah sosok yang kuat, bijaksana, hangat, dan hidup dengan penuh tujuan. Bukan boneka tanpa suara.
Mari kita bicara dari hati ke hati, seperti kakak yang ingin berbagi jalan dengan adiknya.
Apa Sebenarnya Makna "Wanita Sholehah" Menurut Al-Quran?
Kata "sholehah" berasal dari akar kata Arab shalaaha, yang berarti baik, layak, pantas, dan sesuai. Dalam konteks agama, sholeh/sholehah berarti seseorang yang perilakunya selaras dengan apa yang Allah ridhai, yang amal perbuatannya membawa kebaikan bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakatnya.
Baca juga:
Allah sendiri menyebut wanita sholehah secara langsung di dalam Al-Quran. Perhatikan ayat ini:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ
"Maka perempuan-perempuan yang sholehah adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka)."
(QS. An-Nisa: 34)
Dua kata kunci dalam ayat ini luar biasa padat maknanya. Pertama, qaanitat: taat, patuh, setia kepada Allah dalam segala keadaan, bukan hanya saat suasana sedang bagus atau saat orang-orang melihat. Kedua, haafizhat lil-ghayb: menjaga kehormatan dan kepercayaan bahkan ketika tidak ada yang mengawasi. Ini bukan ketaatan karena takut dilihat manusia. Ini ketaatan karena sadar bahwa Allah selalu melihat.
Gambaran ini jauh lebih dalam dari sekadar berpakaian tertutup atau rajin ke pengajian. Wanita sholehah adalah perempuan yang hidupnya dijaga dari dalam, bukan dari luar saja.
Ciri-Ciri Wanita Sholehah yang Disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah
Allah membuat daftar yang luar biasa komprehensif dalam satu ayat di surat Al-Ahzab. Ayat ini menyebutkan sepuluh pasang kualitas, dan wanita sholehah ada di setiap pasangnya:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
"Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar (imannya), laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar untuk mereka."
(QS. Al-Ahzab: 35)
Sepuluh ciri ini bukan sesuatu yang dicapai dalam semalam. Tapi ini adalah peta jalan yang Allah berikan. Mari kita telusuri beberapa yang paling sering kita abaikan.
1. Taat kepada Allah, Bukan Sekadar kepada Tradisi
Ada perbedaan besar antara taat karena memang mencintai Allah, dengan taat karena takut dihakimi tetangga atau keluarga. Wanita sholehah yang sejati ketaatannya bersumber dari dalam. Ia sholat bukan karena ibu memarahinya kalau tidak sholat. Ia menutup aurat bukan karena takut digosipin. Ia berbuat baik bukan karena ingin dipuji.
Ketaatan yang tulus ini lahir dari mengenal Allah. Semakin kamu tahu siapa Allah, semakin mudah hatimu tunduk kepada-Nya. Ini adalah pondasi paling mendasar dari kesholehahan.
2. Jujur dalam Perkataan dan Perbuatan
Ayat di atas menyebut shoodiqiin wa shoodiqaat: mereka yang benar. Kejujuran adalah tulang punggung akhlak seorang muslimah. Jujur kepada Allah dalam ibadah, jujur kepada suami dalam pernikahan, jujur kepada diri sendiri tentang kelemahan dan kelebihan yang dimiliki.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
"Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa kepada surga."
(HR. Bukhari, no. 6094)
3. Sabar yang Aktif, Bukan Pasif
Sabar sering disalahpahami sebagai sikap diam dan menerima begitu saja. Padahal dalam Islam, sabar adalah kekuatan aktif. Sabar artinya menahan diri dari hal yang dilarang Allah, konsisten dalam menjalankan perintah-Nya, dan tabah menghadapi ujian tanpa kehilangan iman.
Wanita sholehah tidak cengeng, tapi bukan berarti ia tidak boleh menangis. Ia tidak pemarah, tapi bukan berarti ia tidak punya batas. Kesabarannya adalah pilihan sadar yang ia buat setiap hari.
4. Khusyuk dalam Ibadah
Sholat lima waktu yang hadir dengan pikiran dan hati yang benar-benar ada di hadapan Allah, bukan sekadar tubuh yang bergerak sementara pikiran melayang ke mana-mana. Inilah khusyuk. Dan ini adalah salah satu ciri yang Al-Quran sebut secara khusus.
Langkah Praktis Menjadi Wanita Sholehah yang Bisa Dimulai Hari Ini
Teori yang indah tidak berarti apa-apa kalau tidak diwujudkan. Jadi mari kita bicara tentang langkah nyata yang bisa kamu mulai, bukan besok, tapi hari ini.
Langkah Pertama: Benahi Sholatmu
Dari semua ibadah, sholat adalah yang paling pertama dihisab di hari kiamat. Ini bukan hanya informasi teologis. Ini adalah petunjuk tentang dari mana kamu harus mulai membenahi diri.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
"Sungguh amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada hari kiamat adalah sholatnya. Jika sholatnya baik, maka ia beruntung dan selamat. Jika sholatnya rusak, maka ia merugi dan celaka."
(HR. At-Tirmidzi, no. 413)
Mulailah dengan memastikan sholat fardhu lima waktumu tidak ada yang bolong. Kalau belum bisa khusyuk, itu wajar. Tapi jaga dulu agar tidak ada yang terlewat. Dari sana, pelan-pelan bangun kekhusyukannya.
Langkah Kedua: Jaga Lisanmu Sebelum Memperbaiki Orang Lain
Salah satu jebakan terbesar dalam perjalanan menuju kesholehahan adalah sibuk memperbaiki orang lain sebelum memperbaiki diri sendiri. Dan pintu masuk untuk memperbaiki diri sendiri yang paling mudah diamati setiap hari adalah: lisan.
Ghibah, fitnah, kata-kata yang menyakiti, gosip yang kita anggap "sekadar cerita" adalah penguras pahala yang nyata. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
"Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam."
(HR. Bukhari, no. 6018)
Mulai hari ini, coba satu aturan sederhana: sebelum bicara, tanyakan pada diri sendiri tiga hal. Apakah ini benar? Apakah ini perlu? Apakah ini baik? Kalau tidak memenuhi salah satu dari tiga syarat itu, simpan saja.
Langkah Ketiga: Bangun Kedekatan dengan Al-Quran
Al-Quran bukan hanya kitab yang dibaca untuk mendapat pahala huruf per huruf, meskipun itu pun sudah mulia. Al-Quran adalah panduan hidup. Ia berbicara langsung kepada hatimu tentang ujian yang sedang kamu hadapi, tentang rasa takut yang kamu simpan, tentang harapan yang kamu jaga.
Cobalah untuk membaca terjemahan Al-Quran setiap hari, meski hanya satu halaman. Bukan untuk khatam secepat mungkin, tapi untuk merenungi maknanya. Biarkan ayat-ayatnya turun ke dalam hati, bukan hanya melintas di lidah.
إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ
"Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus."
(QS. Al-Isra: 9)
Langkah Keempat: Pilih Lingkungan yang Mendukungmu Bertumbuh
Manusia adalah makhluk yang sangat dipengaruhi lingkungannya. Ini bukan kelemahan, ini fakta fitrah. Makanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan perumpamaan yang sangat indah tentang pengaruh teman:
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ
"Perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi."
(HR. Bukhari, no. 2101)
Penjual minyak wangi minimal membuat kamu ikut harum karena duduk bersamanya. Pandai besi minimal membuat bajumu terkena percikan apinya. Siapakah orang-orang yang paling banyak mengisi waktu hidupmu? Apakah mereka mendorongmu lebih dekat kepada Allah, atau semakin jauh?
Bukan berarti kamu harus memutus silaturahmi dengan semua orang yang tidak sholeh. Tapi sadari siapa yang kamu izinkan untuk menjadi pengaruh terbesar dalam hidupmu.
Langkah Kelima: Perlakukan Dirimu dengan Kasih Sayang
Ini mungkin langkah yang paling tidak terduga di artikel tentang kesholehahan. Tapi ini penting.
Banyak muslimah yang menyiksa diri sendiri dengan standar yang tidak realistis. Mereka merasa tidak cukup baik karena masih sering marah, masih sering lalai, masih punya banyak kekurangan. Lalu mereka menyerah karena merasa terlalu jauh dari gambaran "wanita sholehah sempurna" yang ada di kepala mereka.
Allah Maha Pengampun. Ia tidak menuntut kesempurnaan. Ia menuntut ketulusan dan terus berusaha. Kesholehahan bukan kondisi yang kamu capai sekali lalu selesai. Ia adalah perjalanan harian yang penuh dengan bangkit setelah jatuh.
Teladan Wanita Sholehah: Belajar dari Sejarah
Al-Quran tidak hanya berbicara tentang konsep. Ia juga memberikan teladan nyata. Salah satu yang paling mengharukan adalah kisah Asiyah, istri Fir'aun, yang Allah abadikan doanya dalam Al-Quran:
رَبِّ ابْنِ لِي عِندَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
"Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim."
(QS. At-Tahrim: 11)
Bayangkan: ia adalah istri seorang raja terkuat di zamannya, hidup dalam istana dengan segala kemewahan. Namun doanya bukan meminta kekayaan, bukan meminta kekuasaan. Doanya adalah rumah di surga dan keselamatan dari kezaliman. Inilah orientasi hidup wanita sholehah: dunia bukan tujuan utama.
Ada pula Maryam binti Imran, yang Allah pilih di atas semua perempuan di zamannya bukan karena kecantikan atau kekayaan, tetapi karena ketaatan dan kesuciannya:
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَىٰ نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
"Dan (ingatlah) ketika para malaikat berkata, 'Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah telah memilihmu, menyucikanmu, dan melebihkanmu di atas segala perempuan di seluruh alam.'"
(QS. Ali Imran: 42)
Maryam tidak punya suami, tidak punya kekayaan, tidak punya jabatan sosial. Yang ia punya adalah hati yang bersih dan ibadah yang tulus. Dan Allah memilihnya di atas semua perempuan di alam semesta. Ini seharusnya menjadi pengingat bahwa standar kemuliaan di mata Allah sangat berbeda dari standar kemuliaan di mata manusia.
Wanita Sholehah adalah Sebaik-baik Perhiasan Dunia
Ada satu hadits yang begitu sering dikutip namun sering juga disalahpahami. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
"Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita sholehah."
(HR. Muslim, no. 1467)
Kamu bukan sekadar perhiasan untuk dilihat. Dalam konteks hadits ini, "perhiasan terbaik" artinya nilai tertinggi yang ada di dunia ini. Wanita sholehah adalah aset terbesar sebuah keluarga, sebuah masyarakat, sebuah peradaban. Ibumu yang sholehah yang mendoakanmu setiap malam adalah kekuatan yang tidak ternilai. Istrimu yang sholehah yang menjaga rumah dan mendidik anak adalah fondasi yang menopang generasi.
Jadi ketika kamu berusaha menjadi wanita sholehah, kamu tidak sedang berjuang untuk dirimu sendiri saja. Kamu sedang berjuang untuk semua orang yang hidupnya kamu sentuh.
Penutup: Perjalanan Ini Tidak Harus Sempurna, yang Penting Tidak Berhenti
Kalau hari ini kamu merasa belum cukup baik, itu wajar. Bahkan sahabat-sahabat Nabi yang mulia pun pernah merasa begitu. Yang membedakan mereka dengan orang yang menyerah adalah mereka tidak pernah berhenti berjalan.
Kesholehahan bukan garis finish yang kamu sentuh lalu selesai. Ia adalah cara kamu berjalan setiap hari: apakah langkahmu mengarah kepada Allah atau menjauh dari-Nya. Dan selama kamu masih mengarah kepada Allah, selama itu pula kamu sedang menjadi wanita sholehah.
Mulai dari yang kecil. Mulai dari satu kebiasaan yang diperbaiki hari ini. Mulai dari satu dosa yang kamu minta ampun sekarang juga. Mulai dari satu rakaat sholat yang kamu perbaiki kualitasnya malam ini. Tidak ada yang terlalu kecil di hadapan Allah kalau dilakukan dengan tulus.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
"Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik."
(QS. At-Taubah: 120)
Semoga Allah memudahkan langkahmu, menjaga hatimu agar tetap lurus, dan memasukkanmu ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang sholehah. Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.
FAQ: Pertanyaan yang Sering Ditanyakan tentang Menjadi Wanita Sholehah
1. Apakah wanita sholehah harus selalu di rumah dan tidak boleh berkarier?
Tidak ada larangan dalam Islam bagi perempuan untuk bekerja atau berkarier, selama memenuhi syarat-syarat syariat seperti menjaga aurat, menghindari khalwat dengan pria bukan mahram, dan tidak melalaikan kewajiban utamanya. Islam tidak memenjarakan perempuan di rumah; Islam melindungi perempuan dari hal-hal yang membahayakannya. Banyak sahabiyah yang aktif secara sosial dan ekonomi, termasuk Khadijah radhiyallahu 'anha yang merupakan seorang pebisnis sukses.
2. Bagaimana kalau saya masih sering berbuat dosa, apakah masih bisa menjadi wanita sholehah?
Ya, tentu saja. Tidak ada manusia yang bebas dari dosa. Yang membedakan orang sholeh bukan ketiadaan dosa, melainkan kecepatan mereka kembali kepada Allah setelah berbuat salah. Selagi kamu masih merasa menyesal atas dosa dan bertekad untuk bertobat, pintu rahmat Allah selalu terbuka. Allah berfirman bahwa Ia mencintai orang-orang yang bertobat dan mensucikan diri (QS. Al-Baqarah: 222).
3. Dari mana saya harus mulai jika ingin menjadi wanita sholehah?
Mulai dari sholat. Ini adalah pondasi paling dasar. Pastikan sholat lima waktumu tidak ada yang terlewat, lalu pelan-pelan perbaiki kualitasnya. Dari sholat yang baik, kebiasaan-kebiasaan baik lainnya akan lebih mudah dibangun karena sholat yang khusyuk secara alami membentuk hati yang lebih peka terhadap perintah dan larangan Allah.
4. Apakah wanita sholehah tidak boleh punya pendapat atau tegas dalam bersikap?
Justru sebaliknya. Wanita-wanita mulia dalam sejarah Islam dikenal karena ketegasan dan kecerdasan mereka. Aisyah radhiyallahu 'anha adalah salah satu perawi hadits terbanyak dan dikenal berani memperbetulkan kesalahpahaman. Fatimah radhiyallahu 'anha dikenal tegas dalam mempertahankan haknya. Kesholehahan tidak sama dengan kelemahan. Kesholehahan adalah kekuatan yang diarahkan dengan bijaksana sesuai nilai-nilai Islam.
5. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjadi wanita sholehah?
Kesholehahan bukan tujuan yang dicapai di titik tertentu lalu berhenti. Ia adalah perjalanan seumur hidup. Yang penting bukan seberapa cepat kamu mencapainya, tapi seberapa konsisten kamu berjalan ke arahnya. Bahkan ulama-ulama besar yang telah puluhan tahun beribadah masih merasa diri mereka jauh dari sempurna. Nikmatilah prosesnya, jangan terburu-buru ingin sampai, dan percayakan hasilnya kepada Allah.
Komentar
Komentar pembaca
Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.
Tinggalkan komentar