Artikel

Cara Menghilangkan Rasa Malas Beribadah dalam Islam: Solusi Nyata yang Terbukti

Pernahkah kamu membuka mata di waktu subuh, mendengar azan berkumandang, lalu merasakan tubuhmu seolah menolak untuk bergerak? Atau duduk berjam-jam di depan layar, scrolling tanpa tujuan, tapi ketika...

DA
By Dimas Agustav
15 Juli 2026
7 min read 79 views
Cara Menghilangkan Rasa Malas Beribadah dalam Islam: Solusi Nyata yang Terbukti

Informasi

Published
15 Juli 2026
Reading time
7 min
Views
79

Pernahkah kamu membuka mata di waktu subuh, mendengar azan berkumandang, lalu merasakan tubuhmu seolah menolak untuk bergerak? Atau duduk berjam-jam di depan layar, scrolling tanpa tujuan, tapi ketika waktunya membaca Al-Quran, tiba-tiba ada saja alasannya untuk menunda? Kalau pernah, ketahuilah: kamu tidak sendirian, dan kamu tidak buruk.

Rasa malas beribadah adalah perasaan yang hampir setiap muslimah pernah rasakan, bahkan mereka yang terlihat paling rajin sekalipun. Artikel ini hadir bukan untuk menghakimimu, melainkan untuk menemanimu memahami apa yang sedang terjadi dan menemukan jalan keluar yang nyata, satu langkah kecil dalam satu waktu.

Rasa Malas Itu Manusiawi, dan Islam Mengakuinya

Sebelum membahas cara menghilangkan rasa malas dalam Islam, ada satu hal penting yang perlu kamu terima terlebih dahulu: rasa malas adalah bagian dari fitrah manusia. Allah menciptakan kita dengan nafsu, dengan keinginan untuk beristirahat, dengan kecenderungan mencari kemudahan. Itu bukan dosa semata, itu adalah ujian.

Yang membedakan seorang muslimah dengan yang lainnya bukan ketiadaan rasa malas, melainkan bagaimana ia merespons perasaan itu.

Bahkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, manusia paling mulia yang pernah hidup, mengajarkan kita untuk berlindung dari rasa malas. Itu artinya, beliau sendiri menegaskan bahwa malas adalah sesuatu yang nyata dan perlu diatasi, bukan sesuatu yang menjadi tanda keimanan seseorang rusak sepenuhnya.

Mengenal "Futur": Nama Islamnya Rasa Malas Beribadah

Apa Itu Futur?

Dalam khazanah Islam, kondisi rasa malas, lesu, dan menurunnya semangat beribadah dikenal dengan istilah futur. Secara bahasa, futur berarti dingin setelah panas, atau kendur setelah kencang. Dalam konteks ibadah, futur adalah masa ketika semangat yang tadinya membara mulai meredup.

Futur bukan berarti seseorang tidak beriman. Futur adalah fase yang hampir pasti akan dialami oleh setiap Muslim dalam perjalanan hidupnya. Yang berbahaya bukan futurnya itu sendiri, melainkan jika futur dibiarkan berlarut-larut tanpa usaha untuk bangkit.

Bahkan Para Sahabat Pun Merasakannya

Hanzhalah al-Usayyidi, salah seorang sahabat mulia yang menjadi penulis wahyu, pernah datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dengan wajah sedih sambil berkata, "Hanzhalah telah munafik!" Abu Bakar terkejut dan bertanya apa yang terjadi. Hanzhalah menjelaskan bahwa ketika bersama Rasulullah, hatinya terasa sangat khusyuk, seolah surga dan neraka ada di depan matanya. Tetapi begitu pulang ke rumah, bertemu istri dan anak-anak, perasaan itu berkurang.

Mereka berdua kemudian menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan menceritakan hal itu. Beliau bersabda:

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau kalian terus berada dalam keadaan seperti ketika kalian bersamaku dan terus berdzikir, pasti para malaikat akan menyalami kalian di atas kasur dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, sesaat dan sesaat."

(HR. Muslim no. 2750)

Subhanallah. Bahkan sahabat sekaliber Hanzhalah pun mengalami naik-turunnya semangat. Rasulullah tidak memarahi mereka. Beliau justru memvalidasi bahwa memang ada waktunya semangat naik dan ada waktunya turun. Ini adalah sunnatullah dalam perjalanan seorang hamba.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

إِنَّ لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي فَقَدِ اهْتَدَى، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

"Sesungguhnya setiap amal ada masa semangatnya, dan setiap masa semangat ada masa futurnya. Barangsiapa yang masa futurnya menuju pada sunnahku, maka ia telah mendapat petunjuk. Dan barangsiapa yang masa futurnya menuju selain itu, maka ia telah binasa."

(HR. Ahmad no. 6777)

Pesan dari hadits ini sangat menenangkan: yang penting bukan bahwa kita tidak pernah futur, melainkan bahwa ketika futur, kita tetap berusaha kembali ke jalur sunnah, bukan meninggalkan ibadah sama sekali.

Penyebab Rasa Malas Beribadah Menurut Islam

Memahami akar masalah adalah langkah pertama menuju solusi yang tepat. Islam memberikan panduan yang sangat jelas tentang apa saja yang menyebabkan seorang hamba mengalami kemalasan dalam beribadah.

Melemahnya Iman (Dha'ful Iman)

Iman tidak stagnan. Ia naik dengan ketaatan dan turun dengan kemaksiatan atau kelalaian. Ketika iman melemah, ibadah terasa berat karena koneksi hati dengan Allah mulai redup. Ibadah tidak lagi terasa sebagai kebutuhan, melainkan kewajiban yang membebani.

Allah berfirman:

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

"Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan salat. Dan (salat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk."

(QS. Al-Baqarah: 45)

Ayat ini mengungkap sebuah kebenaran: ibadah memang terasa berat bagi hati yang tidak khusyuk. Solusinya bukan memaksakan tubuh, melainkan merawat hati terlebih dahulu.

Terlalu Cinta Dunia (Hubbud Dunya)

Ketika hati terlalu terpaut pada dunia, kesibukan dunia, hiburan dunia, dan kesenangan dunia, waktu dan energi untuk ibadah terasa sangat terbatas. Allah mengingatkan:

كَلَّا بَلْ تُحِبُّونَ الْعَاجِلَةَ وَتَذَرُونَ الْآخِرَةَ

"Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu (orang-orang kafir) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat."

(QS. Al-Qiyamah: 20-21)

Perhatikan bagaimana masyarakat kita hari ini bisa begadang sampai tengah malam menonton drama atau scrolling media sosial, namun kesulitan bangun untuk sholat subuh. Ini bukan soal tidak memiliki waktu, ini soal di mana hati kita menaruh cinta.

Kurang Berdzikir dan Hati yang Keras

Dzikir adalah nutrisi hati. Ketika hati jarang diisi dengan dzikrullah, ia menjadi keras dan sulit tersentuh oleh keindahan ibadah. Allah memberikan kabar gembira sekaligus pengingat keras:

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

"Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."

(QS. Ar-Ra'd: 28)

Ketika hati tidak tenteram karena kurang dzikir, segala ibadah terasa hampa dan berat. Ini menciptakan lingkaran setan: malas berdzikir membuat hati keras, hati keras membuat malas beribadah.

7 Cara Menghilangkan Rasa Malas Beribadah dalam Islam

Berikut ini adalah langkah-langkah konkret yang bisa kamu mulai hari ini, dari yang paling sederhana hingga yang membutuhkan komitmen jangka panjang. Tidak perlu semuanya sekaligus. Pilih satu, kuatkan, lalu tambah yang berikutnya.

1. Perbarui Niat dari Akar

Sebelum melakukan apa pun, duduklah sejenak dan tanyakan pada dirimu: untuk siapa aku beribadah? Ketika ibadah terasa berat, seringkali itu karena niat kita sudah bergeser, atau bahkan tidak pernah benar-benar tertancap dengan kokoh.

Perbarui niatmu. Ucapkan dalam hati, "Aku ingin sholat ini karena aku mencintai Allah, karena aku butuh Allah, bukan karena takut dihukum atau ingin terlihat sholehah." Niat yang benar bukan hanya tentang keikhlasan, tapi juga tentang motivasi yang berkelanjutan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

"Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya."

(HR. Bukhari no. 1, Muslim no. 1907)

Niat yang diperbarui setiap hari akan membuat ibadah terasa hidup, bukan rutinitas kosong.

2. Mulai Hari dengan Dzikir Pagi

Dzikir pagi (adzkar ash-shabah) adalah benteng spiritual yang sering dianggap sepele namun dampaknya luar biasa. Ketika kamu memulai hari dengan menyebut nama Allah, memohon perlindungan-Nya, dan bersyukur atas nikmat bangun pagi, seluruh hari terasa berbeda.

Mulai dari yang singkat. Cukup tiga dzikir: Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 34 kali. Atau baca Ayat Kursi setelah sholat subuh. Tidak perlu satu jam. Lima menit sudah cukup untuk memulai.

Ketika hati terisi dzikir di pagi hari, rasa malas beribadah di siang dan sore hari cenderung berkurang drastis karena koneksi hatimu dengan Allah sudah terjaga sejak awal.

3. Komitmen Sholat Tepat Waktu

Salah satu penyebab ibadah terasa berat adalah kebiasaan menunda-nunda sholat. Ketika kamu terus berkata "nanti sebentar lagi" saat azan berkumandang, kamu melatih hatimu untuk tidak merespons panggilan Allah dengan segera. Lama-kelamaan, azan terasa seperti suara latar belakang saja.

Cobalah satu minggu ke depan untuk sholat tepat waktu atau bahkan di awal waktu. Rasakan perbedaannya. Ketika kamu terbiasa berhenti dari aktivitas dunia begitu azan berkumandang, kamu sedang melatih hatimu untuk mendahulukan Allah di atas segalanya.

Allah berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَّوْقُوتًا

"Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman."

(QS. An-Nisa: 103)

4. Perbaiki Lingkungan Sekitarmu

Manusia sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Jika kamu dikelilingi teman-teman yang tidak peduli pada ibadah, yang mengajak begadang tidak jelas, yang pembicaraannya jauh dari hal-hal bermanfaat, maka menjaga semangat beribadah akan sangat melelahkan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

"Seseorang itu tergantung agama temannya, maka hendaklah salah seorang dari kalian memperhatikan siapa yang ia jadikan teman."

(HR. Abu Dawud no. 4833, Tirmidzi no. 2378)

Tidak harus langsung memutus pertemanan. Mulailah dengan aktif mencari teman atau komunitas yang baik. Ikut kajian, bergabung dengan kelompok muslimah yang saling mengingatkan, atau ikuti akun-akun media sosial yang kontennya mendekatkan hatimu pada Allah. Secara perlahan, lingkungan baru ini akan menjadi motivasi alami untuk beribadah.

5. Bersedekah Meski Sedikit

Mungkin terdengar tidak langsung terkait, tapi sedekah memiliki kekuatan luar biasa untuk melembutkan hati dan mengusir kemalasan beribadah. Ketika kita memberi, kita diingatkan bahwa semua yang kita miliki adalah titipan Allah. Dan hati yang ingat ini lebih mudah untuk tunduk dalam ibadah.

الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ الْمَاءُ النَّارَ

"Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api."

(HR. Tirmidzi no. 2616)

Mulai dari yang kecil. Seribu rupiah sehari untuk kotak amal masjid. Atau sekadar berbagi makanan dengan tetangga. Setiap sedekah, sekecil apapun, melatih hatimu untuk tidak terlalu terikat pada dunia dan lebih mudah beribadah.

6. Baca Al-Quran Meski Hanya Beberapa Ayat

Banyak muslimah yang merasa guilty karena tidak bisa khatam setiap bulan, hingga akhirnya malah tidak membaca sama sekali. Ini adalah jebakan perfeksionisme yang berbahaya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

"Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling berkelanjutan meskipun sedikit."

(HR. Bukhari no. 6465, Muslim no. 783)

Tiga ayat setiap hari, setiap hari tanpa putus, jauh lebih baik daripada membaca dua juz dalam satu hari lalu berhenti sebulan. Mulailah dengan target yang realistis: setelah sholat Maghrib, baca minimal tiga ayat Al-Quran. Rasakan bagaimana kalimat-kalimat Allah perlahan-lahan melembutkan hatimu dan membuat ibadah lainnya terasa lebih ringan.

7. Sering Mengingat Kematian

Ini mungkin terdengar suram, tapi mengingat kematian adalah salah satu obat paling ampuh untuk malas beribadah yang pernah diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ

"Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan, yaitu kematian."

(HR. Tirmidzi no. 2307, Ibn Majah no. 4258)

Ketika kamu teringat bahwa kematian bisa datang kapan saja, tiba-tiba menunda sholat terasa sangat berisiko. Ketika kamu sadar bahwa setiap detik yang berlalu adalah detik yang tidak akan pernah kembali, scrolling media sosial selama berjam-jam terasa seperti pemborosan yang menyedihkan.

Cobalah setiap pagi, sebelum memulai hari, luangkan satu menit untuk merenungkan: jika hari ini adalah hari terakhirku, apakah aku akan menyesal dengan cara aku beribadah kemarin? Renungan singkat ini memiliki kekuatan untuk menggerakkan kakimu ke sajadah lebih cepat dari nasihat manapun.

Doa Agar Dijauhkan dari Rasa Malas

Selain ikhtiar dengan cara-cara di atas, seorang muslimah juga harus mengandalkan kekuatan doa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengajarkan doa khusus untuk berlindung dari kemalasan, dan beliau membacanya setiap pagi dan sore.

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ، وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْبُخْلِ وَالْجُبْنِ، وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ

"Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa gelisah dan sedih, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, dari lilitan hutang dan tekanan orang lain."

(HR. Bukhari no. 6369)

Perhatikan: kata kasala (kemalasan) disebutkan secara eksplisit dalam doa Nabi. Ini menunjukkan bahwa Rasulullah sendiri mengajari umatnya untuk meminta perlindungan Allah dari malas setiap harinya. Jadikan doa ini bagian dari rutinitas pagi dan sore harimu.

Ada pula doa lain yang sangat dianjurkan:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

"Ya Allah, tolonglah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."

(HR. Abu Dawud no. 1522, Nasa'i no. 1303)

Doa ini diajarkan Rasulullah kepada Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu dan dianjurkan dibaca setiap selesai sholat. Ia adalah pengakuan jujur bahwa kita tidak mampu beribadah dengan baik tanpa pertolongan Allah, sekaligus permohonan agar Allah sendiri yang membantu kita.

Bangkit Itu Tidak Harus Langsung Sempurna

Ukhti, perjalanan kembali dari futur tidak harus dramatis. Tidak perlu langsung sholat malam dua jam, khatam Al-Quran setiap minggu, atau hadir di kajian setiap hari. Bangkit yang Allah cintai adalah bangkit yang konsisten, meski dengan langkah kecil.

Allah tidak menghitung seberapa besar amalmu, tapi seberapa tulus dan seberapa istiqamah. Dan kabar gembiranya, Allah Maha Lembut kepada hamba-hamba-Nya yang berusaha kembali.

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

"Katakanlah, 'Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.'"

(QS. Az-Zumar: 53)

Ayat ini bukan hanya untuk mereka yang melakukan dosa besar. Ini juga untukmu, yang merasa bersalah karena sudah terlalu lama malas beribadah. Allah tidak pernah menutup pintu-Nya. Ia justru memanggil kita untuk kembali, berapapun jauhnya kita merasa telah pergi.

Mulailah hari ini. Bukan besok. Bukan Senin depan. Bukan setelah Ramadhan. Hari ini, sekarang, pilih satu langkah kecil dari tujuh cara di atas dan lakukan. Niatkan karena Allah. Dan percayakan hasilnya kepada Allah yang Maha Lembut lagi Maha Mengetahui kondisi hatimu.

Semoga Allah memudahkan langkah kita semua untuk terus kembali kepada-Nya, dalam keadaan semangat maupun lesu, dalam kondisi kuat maupun lemah. Karena hamba yang terus berusaha kembali adalah hamba yang dicintai Allah.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)

Apakah normal sering merasa malas beribadah?

Ya, sangat normal. Bahkan para sahabat Nabi pun pernah mengalaminya, seperti yang diceritakan dalam kisah Hanzhalah radhiyallahu 'anhu. Yang penting adalah tidak membiarkan rasa malas itu terus berlarut-larut tanpa usaha untuk bangkit. Kenali penyebabnya, ambil langkah kecil untuk memperbaiki diri, dan jangan lupa berdoa memohon pertolongan Allah.

Bagaimana cara menghilangkan rasa malas sholat ketika sangat sibuk?

Kuncinya adalah mindset: sibuk bukan alasan untuk melewatkan sholat, tapi justru alasan untuk memprioritaskannya. Coba atur alarm lima menit sebelum masuk waktu sholat sebagai pengingat. Siapkan sajadah di tempat yang mudah dijangkau. Ketika sholat terasa berat karena kesibukan, ingatlah bahwa sholat lima menit itu lebih berharga dari jam-jam pekerjaan yang kamu lakukan. Allah lah yang mengatur rezeki dan kelancaran urusanmu.

Apakah ada amalan khusus yang cepat menghilangkan rasa malas beribadah?

Doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu "Allahumma inni a'udzu bika minal hammi wal hazan, wal 'ajzi wal kasali..." (HR. Bukhari no. 6369), adalah amalan yang sangat dianjurkan. Selain itu, membaca Al-Quran meski hanya beberapa ayat setiap hari terbukti secara spiritual melembutkan hati dan mengurangi futur. Tidak ada jalan pintas yang instan, tapi kombinasi doa dan ikhtiar konsisten adalah cara paling efektif.

Bagaimana jika sudah berusaha tapi rasa malas tetap datang?

Jangan menyerah. Ingat sabda Rasulullah bahwa setiap amal memiliki fase semangat dan fase futur. Ketika sudah berusaha namun futur tetap datang, kembalilah pada langkah paling dasar: perbarui niat, baca doa perlindungan dari malas, dan lakukan minimal satu amalan kecil. Jangan menunggu mood yang baik untuk beribadah, karena mood yang baik justru datang setelah kita memulai ibadah itu sendiri.

Apakah terlalu banyak bermain media sosial bisa menyebabkan malas beribadah?

Ya, sangat bisa. Media sosial dirancang untuk membuat kita terus scrolling, menghabiskan waktu dan energi mental tanpa sadar. Ketika energi kita terkuras untuk hal-hal yang tidak bermakna, tidak ada lagi semangat tersisa untuk beribadah. Cobalah batasi waktu media sosial, terutama sebelum sholat, dan gantikan waktu itu dengan dzikir atau membaca Al-Quran. Perubahan ini terasa berat di awal, tapi dampaknya pada kualitas ibadah sangat terasa dalam beberapa hari pertama.

Pertanyaan umum

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Accordion responsif agar pembaca cepat menemukan jawaban.

Apakah normal sering merasa malas beribadah? +
Ya, sangat normal. Bahkan para sahabat Nabi pun pernah mengalaminya, seperti yang diceritakan dalam kisah Hanzhalah radhiyallahu 'anhu. Yang penting adalah tidak membiarkan rasa malas itu terus berlarut-larut tanpa usaha untuk bangkit. Kenali penyebabnya, ambil langkah kecil untuk memperbaiki diri, dan jangan lupa berdoa memohon pertolongan Allah.
Bagaimana cara menghilangkan rasa malas sholat ketika sangat sibuk? +
Kuncinya adalah mindset: sibuk bukan alasan untuk melewatkan sholat, tapi justru alasan untuk memprioritaskannya. Coba atur alarm lima menit sebelum masuk waktu sholat sebagai pengingat. Siapkan sajadah di tempat yang mudah dijangkau. Ketika sholat terasa berat karena kesibukan, ingatlah bahwa sholat lima menit itu lebih berharga dari jam-jam pekerjaan yang kamu lakukan. Allah lah yang mengatur rezeki dan kelancaran urusanmu.
Apakah ada amalan khusus yang cepat menghilangkan rasa malas beribadah? +
Doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu "Allahumma inni a'udzu bika minal hammi wal hazan, wal 'ajzi wal kasali..." (HR. Bukhari no. 6369), adalah amalan yang sangat dianjurkan. Selain itu, membaca Al-Quran meski hanya beberapa ayat setiap hari terbukti secara spiritual melembutkan hati dan mengurangi futur. Tidak ada jalan pintas yang instan, tapi kombinasi doa dan ikhtiar konsisten adalah cara paling efektif.
Bagaimana jika sudah berusaha tapi rasa malas tetap datang? +
Jangan menyerah. Ingat sabda Rasulullah bahwa setiap amal memiliki fase semangat dan fase futur. Ketika sudah berusaha namun futur tetap datang, kembalilah pada langkah paling dasar: perbarui niat, baca doa perlindungan dari malas, dan lakukan minimal satu amalan kecil. Jangan menunggu mood yang baik untuk beribadah, karena mood yang baik justru datang setelah kita memulai ibadah itu sendiri.
Apakah terlalu banyak bermain media sosial bisa menyebabkan malas beribadah? +
Ya, sangat bisa. Media sosial dirancang untuk membuat kita terus scrolling, menghabiskan waktu dan energi mental tanpa sadar. Ketika energi kita terkuras untuk hal-hal yang tidak bermakna, tidak ada lagi semangat tersisa untuk beribadah. Cobalah batasi waktu media sosial, terutama sebelum sholat, dan gantikan waktu itu dengan dzikir atau membaca Al-Quran. Perubahan ini terasa berat di awal, tapi dampaknya pada kualitas ibadah sangat terasa dalam beberapa hari pertama.

Komentar

Komentar pembaca

Komentar dimoderasi untuk mengurangi spam.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar yang disetujui.